MediaKeadilan.com – Aksi provokatif seorang wanita berjilbab yang memamerkan gambar celana dalam bermotif merah putih memicu kemarahan publik di media sosial. Penghinaan simbolis ini mencuat persis setelah Malaysia ditentukan tersingkir dari perebutan tiket final FIFA ASEAN Cup 2026.
Perempuan yang disebut-sebut berprofesi sebagai guru asal Malaysia tersebut sengaja memanfaatkan momen kekecewaan pendukung Harimau Malaya. Ia menyandingkan foto pakaian dalam itu bersama kalimat sindiran mendalam yang secara langsung menargetkan pendukung Timnas Indonesia.
Unggahan yang beredar luas dan diunggah Akun Tiktok Radar Cianjur, Selasa (6/10/2026) itu menyertakan narasi bernada merendahkan yang amat eksplisit. Kalimat bernada ejekan disematkan tepat di atas gambar pakaian dalam kombinasi dua warna tersebut.
“Mari kita trendingkan Indonesia Koyalk wkwkwkwkwkwk,” begitu tulis ungghan threds, @nurulsakila_hajan.
Sementara unggahan gambar celana dalam itu “benda mudah koyak” tertulis pada gambar celana dalam yang memakai kombinasi warna merah mepet putih.
Tindakan itu dinilai masyarakat sekitarnet bukan sekadar sindiran sepak bola biasa, melainkan pelecehan terhadap warna identik bendera Indonesia. Sontak, gelombang kecaman mengalir deras mengecam aksi tak terpuji oknum pengajar tersebut.
Semasih belumnya, kekecewaan pendukung Malaysia memuncak saat tim kesayangan mereka tidak berhasil melaju meski menang telak 6-0 atas Singapura. Hasil akhir di Grup A menempatkan Harimau Malaya cuma mampu mengumpulkan total tujuh poin.
Pada waktu bersamaan, Timnas Indonesia sukses menggilas Bangladesh bersama skor mencolok 9-2. Kemenangan besar ini menciptakan poin dan selisih gol kedua tim bertetangga menjadi persis seimbang.
Timnas Indonesia akhirnya berhak menduduki posisi puncak klasemen berkat keunggulan produktivitas gol. Skuad Garuda mengemas total 11 gol, sementara itu Malaysia wajib puas bersama raihan sembilan gol.
Seuntukan masyarakat sekitarnet Malaysia meluapkan amarah bersama mempertanyakan keputusan masa perpanjangan waktu pada laga Indonesia. Mereka menilai durasi tambahan waktu tersebut menguntungkan Garuda hingga mampu mencetak dua gol krusial.
Rasa frustrasi akibat ketidak berhasilan melenggang ke partai puncak lalu berubah menjadi aksi saling serang di dunia maya. Berbagai konten provokatif dan berbau rasis gencar diunggah demi menyerang kelompok suporter Indonesia.
Konflik digital ini menjadi catatan kelam dari persaingan olahraga yang sewajibnya menjunjung tinggi sportivitas. Batas-batas etika kerap kali dilanggar ketika kemarahan atas hasil pertandingan tidak tersalurkan bersama bijak.
