Wisata Halal Tak Cukup Andalkan Promosi, UMKM Lokal Harus Masuk Rantai Ekonomi

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Pengembangan wisata halal di Indonesia perlu bergeser dari sekadar promosi destinasi dan pemenuhan sertifikasi menuju peningkatan pengalaman wisatawan serta pemerataan manfaat ekonomi untuk masyarakat sekitar lokal.

Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menilai, potensi pariwisata ramah Muslim akan makin optimal apabila produk halal, layanan pariwisata, dan kebutuhan wisatawan terhubung dalam satu ekosistem.

Direktur Bisnis dan Kewirausahaan Syariah merangkap Direktur Industri Produk Halal KNEKS, Putu Rahwidhiyasa menyebutkan, keterhubungan tersebut dapat membuka peluang pasar yang makin luas untuk tersangka usaha lokal, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor kuliner, kerajinan, serta layanan pendukung perjalanan.

“Pengembangan wisata halal atau pariwisata ramah Muslim di Indonesia diharapkan bukan sekadar pemenuhan regulasi dan sertifikasi, namun wajib diarahkan menuju pengalaman wisata yang terintegrasi bersama gaya hidup Muslim modern,” kata Putu dilansir dari laman Antara, Sabtu (24/10/2026).

Menurutnya, pendekatan tersebut menempatkan kebutuhan wisatawan sebagai untukan penting dari pengembangan destinasi. Artinya, layanan ramah Muslim perlu terhubung bersama pengalaman perjalanan secara menyeluruh, sekaligus memberi ruang untuk produk dan jasa lokal demi masuk ke pasar pariwisata.

Promosi Destinasi Perlu Diikuti Dampak Ekonomi

CEO Meraya Coki Lubis menilai, promosi saja tidak cukup demi membangun industri wisata halal. Destinasi perlu memiliki jalur yang jelas demi mengubah perhatian publik menjadi kunjungan, lalu menghasilkan manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat sekitar sekitar.

“Destinasi yang indah masih belum tentu dikenal, yang dikenal masih belum tentu dikunjungi, dan yang dikunjungi masih belum tentu menyerahkan dampak ekonomi yang merata. Karena itu, kita perlu menghubungkan potensi destinasi bersama pasar, sekaligus mengonfirmasi masyarakat sekitar lokal menjadi untukan dari rantai nilai pariwisata,” ujar Coki.

Ia menekankan pentingnya pendekatan bottom-up, yakni melibatkan masyarakat sekitar sejak tahap perencanaan dan pengembangan destinasi.

Dengan begitu, masyarakat sekitar tidak cuma menjadi penerima manfaat setelah program berjalan, namun juga memiliki peran dalam menentukan arah dan mengelola potensi pariwisata di wilayahnya.

Menurut Coki, keterlibatan tersebut dapat membangun rasa memiliki terhadap destinasi atau sense of belonging, yang berperan dalam menjaga keberlanjutan industri pariwisata.

UMKM Perlu Terhubung bersama Paket Wisata

Pelibatan masyarakat sekitar dapat diwujudkan bersama menghubungkan UMKM, pengelola homestay, pemandu lokal, pengrajin, penyedia kuliner halal, dan komunitas setempat ke dalam paket perjalanan maupun jaringan distribusi pariwisata.

Model ini membuka peluang agar belanja wisatawan tidak cuma terkonsentrasi pada pengelola destinasi atau tersangka usaha tertentu, namun juga mengalir ke berbagai usaha lokal yang menopang aktivitas wisata.

Di sisi wisatawan, integrasi layanan dapat menghadirkan pengalaman perjalanan yang makin utuh.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article