KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti tajam serangkaian kasus keracunan massal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali muncul.

Sistem distribusi MBG dinilai tidak berhasil total dan secara nyata mengancam keselamatan fisik generasi muda di seluruh Indonesia.

Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra, menyebutkan ada krisis tata kelola dalam program itu.

Sehingga muncul berbagai ancaman mengawali dari penularan penyakit mematikan dari pekerja dapur, hingga buruknya armada pengangkut yang membiarkan makanan busuk di jalan semasih belum sampai ke tangan para siswa.

“Yang sedang kita hadapi bukan cuma persoalan makanan yang basi atau keracunan di sekolah,” kata Jasra dalam keterangannya, Sabtu (8/8/2026).

“Yang sedang kita hadapi merupakan ketidak berhasilan menjaga rantai distribusi pangan, mengawali dari dapur SPPG, pengemasan, penyimpanan, transportasi, waktu tempuh, hingga makanan diterima dan dikonsumsi oleh kalangan anak. Anak tidak boleh menjadi pihak korban dari sistem yang masih belum siap,” katanya mengimbuhkan.

Tudingan keras KPAI tersebut lahir dari fakta lapangan yang memprihatinkan sepanjang rentang pelaksanaan program pada tahun ini.

Pada bulan Juli saja, telah ada ribuan anak yang terkena keracunan.

Tercatat 707 anak di Jawa Tengah, ratusan siswa di Wates Yogyakarta, hingga ratusan anak dan ibu hamil di Papua mendadak tumbang akibat dugaan keracunan massal usai menyantap hidangan MBG.

“Anak-anak sewajibnya menyambut baik makanan yang benar-benar fresh, hangat, aman, dan layak konsumsi. Ketika makanan diterima setelah melewati waktu distribusi yang panjang, maka negara sedang mempertaruhkan kesehatan jutaan anak cuma lantaran rantai logistik masih belum mampu menjamin keamanan pangan,” ucapnya.

Kondisi tata kelola di lapangan kian membahayakan dikarenakan makanan diproduksi jauh semasih belum jam konsumsi.

Belum lagi saat terjebak kemacetan ketika diantar, serta diangkut kendaraan tanpa standar kontrol suhu baku.

Makanan yang dibiarkan berjam-jam dalam suhu ruang berubah menjadi sarang perkembangan bakteri beracun semasih belum disaapabilan di atas meja belajar kalangan anak.

“Kalau keracunan terus berulang di berbagai daerah, maka yang wajib dievaluasi bukan cuma menu makanannya, namun seluruh sistem produksi, distribusi, penyimpanan, dan pengawasannya,” tegasnya

“Keracunan yang berulang merupakan tanda bahwa persoalan masih belum berakhir,” katanya mengimbuhkan.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article