MediaKeadilan.com – Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyerahkan pengarahan mendalam dalam agenda Konsolidasi PDI Perjuangan Jawa Timur yang digelar di Surabaya, Minggu (23/8/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Megawati menekankan pentingnya posisi Jawa Timur, khususnya Surabaya, sebagai pusat pergerakan ideologi bangsa.
Menurut Megawati, Surabaya bukan sekadar kota, melainkan tempat di mana Presiden Pertama RI Soekarno atau Bung Karno menempa diri.
“Dalam perspektif ideologis dan historis, Jawa Timur amat penting. Karena Bung Karno lahir, dibesarkan, dan menggembleng diri di Jawa Timur ini. Surabaya, Mojokerto, dan Blitar penuh bersama rekam jejak sejarah perjuangan Bung Karno. Beliau sendiri menyebutkan Surabaya merupakan ‘Dapurnya Nasionalisme’,” ujar Megawati dikutip dalam keterangannya, Minggu.
Megawati menceritakan bagaimana Bung Karno muda berproses di Surabaya, mengawali dari menamatkan pendidikan di HBS hingga berguru kepada HOS Tjokroaminoto di sebuah ruangan sempit bersama fasilitas terbatas.
“Surabaya bersama demikian menjadi tempat di mana Bung Karno menggembleng diri menjadi patriot yang tangguh. Dari usia yang begitu muda, 16 tahun, beliau telah berimajinasi dan lalu berjuang demi Indonesia Merdeka,” urainya.
Melihat rekam jejak tersebut, Megawati mengajak generasi muda demi mengambil pelajaran tentang kekuatan visi dan keberanian dalam menyikapi keterbatasan.
“Surabaya pada tahun 1916 telah menjadi pusat kapitalisme global. Namun Bung Karno dapat membuktikan bahwa kekuatan kolonialisme terbesar di dunia, yakni Hindia Belanda, dapat dikalahkan melalui kemerdekaan Indonesia. Jadikan ini sebagai pembelajaran untuk kalangan anak muda demi berani bermimpi. Bung Karno berjuang dari sosok pemuda miskin, namun punya cita-cita besar dan berjuang untuk cita-citanya,” beber Megawati.
Terkait tugas kepartaian, Megawati mengimbau seluruh kader menjadikan spirit Surabaya sebagai tempat lahirnya pejuang-pejuang tangguh dalam menyikapi tantangan politik masa kini.
“Sebab Bung Karno sendirilah yang menyebutkan bahwa Surabaya merupakan Dapurnya Nasionalisme. Artinya, di sini menjadi tempat penggodokan, penggemblengan, untuk lahirnya pejuang dan patriot-patriot bangsa yang tangguh,” tegas Presiden Kelima RI tersebut.
Di tengah fenomena pragmatisme politik, Megawati memperingatkan agar kader tidak menjadikan uang dan kekuasaan sebagai tujuan utama.
Mega menekankan bahwa kekuatan sesungguhnya partai berlogo banteng tersebut ada pada ideologi dan kedekatan bersama rakyat.
“Perkuatlah akar rumput. Jadikan spirit penggemblengan Bung Karno sebagai sumber energi, khususnya di Jawa Timur,” perintah Megawati kepada seluruh jajaran PDIP Jawa Timur.
Megawati juga mengingatkan pentingnya membangun emotional bonding atau ikatan emosional antara kader dan rakyat guna mengembalikan Jawa Timur sebagai “Kandang Banteng”.
Ia merujuk pada sejarah militansi kader di Jawa Timur yang sempat teruji dalam menyikapi tekanan politik di masa lalu.
“Ingat, ketika menyikapi tekanan Orde Baru pun, Jawa Timur hadir sebagai kekuatan pendobrak. Pandegiling dan Sukolilo menjadi bukti militansi arek-arek Banteng Jawa Timur,” pungkas Megawati.
