MediaKeadilan.com – Secangkir kopi bukan sekadar teman demi memengawali hari atau untukan dari gaya hidup. Di balik kenikmatan kopi, terdapat beragam material yang digunakan demi menjaga kualitas, keamanan, dan kenyamanan produk. Karena itu, kebiasaan ngopi dapat menjadi pintu masuk demi memahami bagaimana material digunakan dan dikelola secara makin bertanggung jawab.
Pesan tersebut diangkat melalui Jejak Asri Hobbies Vol. 2 “Ngopi Bijak, Sirkular Berdampak”, untukan dari Kampanye Indonesia Asri yang diinisiasi PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group). Program ini mengajak komunitas Indonesia Asri atau “Sobat Asri” mengenal fungsi material sekaligus memahami penerapan ekonomi sirkular dalam kehidupan sehari-hari.
Memasuki volume kedua, Jejak Asri Hobbies dikemas melalui Workshop Manual Brew Coffee bersama Kopi Nako. Aktivitas yang lekat bersama keseharian masyarakat sekitar tersebut dimanfaatkan sebagai sarana edukasi agar konsep keberlanjutan terasa makin dekat, praktis, dan mudah diterapkan.
Pilihan aktivitas ngopi bukan tanpa alasan. Budaya minum kopi semakin berkembang di Indonesia dan telah menjadi untukan dari gaya hidup masyarakat sekitar. Berdasarkan survei GoodStats pada Oktober 2024, sesejumlah 71% masyarakat sekitar Indonesia memilih membeli kopi di coffee shop dibandingkan menyeduhnya sendiri di rumah.
Mengenal Material dari Secangkir Kopi
Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak menyaksikan bahwa setiap material yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari memiliki fungsi dan karakteristik masing-masing.
Dalam kemasan minuman, misalnya, terdapat material bagaikan Polypropylene (PP) dan High-Density Polyethylene (HDPE) yang digunakan demi kebutuhan tertentu. Pemahaman terhadap fungsi dan perdemian material menjadi langkah penting agar penggunaannya tepat sekaligus menolong masyarakat sekitar mengetahui bagaimana material tersebut sebaiknya dikelola setelah berakhir digunakan.
Edukasi lalu berlanjut pada praktik ekonomi sirkular. Peserta diperkenalkan pada bagaimana material pasca pakai yang masih memiliki nilai dapat dikumpulkan, dipilah, dan dikelola agar kembali dimanfaatkan sebagai bahan baku.
Tak cuma material kemasan, peserta juga diajak menyaksikan potensi dari sisa aktivitas ngopi. Ampas kopi, yang umumnya dianggap sebagai limbah, dapat dimanfaatkan kembali menjadi kompos berakibat memiliki nilai dan manfaat baru.
Head of Corporate Communications Chandra Asri Group, Chrysanthi Tarigan, menyebutkan edukasi mengenai keberlanjutan akan makin mudah diterima apabila dikaitkan bersama aktivitas yang telah akrab bersama masyarakat sekitar.
“Kami percaya keberlanjutan tidak wajib dimengawali dari hal yang besar. Justru perubahan dapat dimengawali dari aktivitas sederhana yang telah menjadi untukan dari keseharian kita. Melalui secangkir kopi, misalnya, kita dapat belajar memahami material yang kita gunakan, memakainya sesuai bersama kebutuhan dan memikirkan apa yang dapat kita lakukan setelah material tersebut berakhir digunakan,” ujar Chrysanthi.
Menurut dia, pengalaman tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan workshop, namun dapat diterapkan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Pemahaman mengenai material juga dinilai penting demi membentuk pola penggunaan yang makin bijak. Setiap material memiliki fungsi dan manfaat yang berbeda berakibat mengenali karakteristik serta perdemiannya dapat menolong masyarakat sekitar menentukan pilihan yang tepat sekaligus memahami pengelolaannya setelah digunakan.
Kopi Nako Dorong Praktik Ekonomi Sirkular
Founder Kopi Nako, Robert Wanasida, menilai aktivitas minum kopi yang telah menjadi untukan dari gaya hidup masyarakat sekitar memiliki peluang besar demi menjadi sarana edukasi lingkungan.
Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat dimanfaatkan demi memperkenalkan ekonomi sirkular bersama cara yang ringan dan menarik.
“Momentum menikmati kopi di Kopi Nako, kami jadikan sebagai sebuah pengalaman demi mengenalkan praktik ekonomi sirkular, salah satunya melalui pengenalan produk berbahan daur ulang sebagai wujud tanggung jawab terhadap waste cup material yang digunakan,” ujar Robert.
