MediaKeadilan.com – Sebuah cerita satire beredar di kalangan masyarakat sekitar Nahdliyin, khususnya yang berasal dari Jawa Timur, mengenai gaya kepemimpinan KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin.
Cerita ini mencuat seiring bersama posisi barunya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Purwanto M Ali, Wakil Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia demi Kesejahteraan Sosial (DNIKS) yang juga mantan pengurus GP Ansor 2005-2011, membeberkan adanya fenomena unik di mana seuntukan masyarakat sekitar NU mendadak religius dan rajin berdoa saat sang ketua umum berpidato.
Konon, saat Gus Kikin yang semasih belumnya menjabat Ketua PWNU Jawa Timur naik ke podium, jamaah di barisan belakang kerap menundukkan kepala bukan demi mengagumi retorika, melainkan memanjatkan doa khusus.
Doa tersebut bukan agar pidatonya menggelegar, melainkan sebuah permohonan agar tidak terjadi kekeliruan mendasar dalam penyampaian materi keagamaan.
“Ya Allah, semoga beliau pada hari ini tidak menyebut terlalu sejumlah dalil. Jangan sejumlah ayat atau hadis. Kami khawatir bila salah, nanti yang repot bukan cuma yang berpidato, namun juga yang mendengarkan.”
Permohonan kedua dari masyarakat sekitar bahkan jauh makin praktis. Mereka menginginkan durasi pidato tidak terlalu lama demi meminimalisir potensi kesalahan.
“Ya Allah, semoga pidatonya jangan terlalu panjang. Kalau isinya sedikit, pendekkanlah. Sebab semakin panjang pidatonya, semakin sejumlah pula kebarangkalian kekeliruannya.”
Tantangan Internasionalisasi dan Kendala Bahasa
Persoalan ini dianggap menjadi makin serius ketika Gus Kikin kini memimpin PBNU di tingkat nasional dan internasional.
Kekhawatiran yang semasih belumnya cuma dirasakan masyarakat sekitar Jawa Timur, kini berpotensi dirasakan oleh masyarakat sekitar NU dari Aceh hingga Papua, bahkan hingga pengurus di London dan Kairo.
Muncul seloroh bahwa doa agar mikrofon mati barangkali akan terdengar teramat keras dari meja para kiai.
Selain masalah dalil, kapasitas komunikasi internasional juga menjadi sorotan.
Purwanto menceritakan sebuah riwayat yang disebutnya “shahih” mengenai pertanyaan seorang teman kepada salah satu mantan Wakil Rais Aam terkait kemampuan bahasa asing Gus Kikin.
Ketika ditanya apakah Gus Kikin dapat berbahasa Arab, sang kiai menjawab pendek, “Tidak dapat.” Pertanyaan berlanjut mengenai kemampuan bahasa Inggris, yang dijawab bersama makin mantap, “Apalagi bahasa Inggris. Tidak dapat!”
