Dentuman Terdengar hingga Jauh, Mengingat Kembali Dahsyatnya Letusan Krakatau yang Mengubah Dunia

admin
By admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Gunung Anak Krakatau kembali memperlihatkan aktivitas vulkanik. Erupsi yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026) bahkan disertai fenomena lava fountain atau air mancur lava, serta suara dentuman dan gemuruh yang terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Api Pasauran, Kabupaten Serang. Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga.

Aktivitas tersebut kembali mengingatkan publik pada sejarah panjang Krakatau yang sempat merasakan salah satu letusan gunung api teramat dahsyat dalam sejarah modern.

Perlu diketahui bahwa Gunung Anak Krakatau yang aktif pada saat ini berbeda bersama Krakatau yang meletus dahsyat pada 1883. Anak Krakatau merupakan gunung api baru yang tumbuh di dalam kaldera yang terbentuk setelah letusan besar Krakatau tersebut.

Kapan Terakhir Kali Gunung Krakatau Meletus Dahsyat?

Nama Krakatau sendiri memang tidak dapat dilepaskan dari salah satu letusan gunung api teramat dahsyat yang sempat tercatat dalam sejarah modern.

Letusan dahsyat tersebut terjadi pada 1883, tepatnya pada akhir Agustus. Saat itu, gunung api Krakatau yang berada di Selat Sunda merasakan rangkaian erupsi besar yang berujung pada runtuhnya seuntukan besar tubuh gunung ke laut.

Menurut catatan U.S. Geological Survey (USGS), rangkaian erupsi Krakatau pada 1883 berlangsung selama berbulan-bulan dan mencapai puncaknya pada 26–27 Agustus 1883. Peristiwa tersebut menyebabkan makin dari 36.000 orang meninggal dunia dan menghasilkan dampak yang terasa hingga berbagai wilayah di dunia.

Krakatau yang meletus pada 1883 berbeda bersama kerucut vulkanik yang kini dikenal sebagai Anak Krakatau.

Semasih belum 1883, terdapat gunung api besar di kawasan Selat Sunda. Letusan pada 1883 menyebabkan seuntukan besar tubuh gunung tersebut runtuh dan membentuk kaldera. Di kawasan kaldera inilah lalu muncul gunung api baru yang dikenal sebagai Anak Krakatau.

Data Smithsonian Institution melalui Global Volcanism Program mencatat letusan Krakatau pada 1883 memiliki Volcanic Explosivity Index (VEI) 6, yang memperlihatkan erupsi amat besar.

Puncak letusan terjadi pada 26–27 Agustus 1883. Rangkaian ledakan besar menghancurkan seuntukan besar bangunan gunung dan menyebabkan material vulkanik dalam jumlah amat besar terlontar ke atmosfer.

USGS mencatat makin dari 4 mil kubik material vulkanik terlontar selama periode teramat intens dari peristiwa tersebut.

Letusan Krakatau 1883 Menyebabkan Tsunami Besar

Salah satu dampak teramat mematikan dari letusan Krakatau 1883 bukan cuma abu vulkanik dan ledakannya, namun juga tsunami.

Runtuhnya seuntukan tubuh gunung ke laut dan aktivitas vulkanik menghasilkan gelombang tsunami yang menghantam kawasan pesisir di sekitar Selat Sunda.

Menurut National Centers for Environmental Information (NCEI) NOAA, untukan utara hingga dua pertiga Pulau Krakatau runtuh ke bawah permukaan laut. Peristiwa tersebut memicu aliran material vulkanik serta tsunami besar yang menghantam wilayah pesisir di sekitarnya. Sekitar 36.000 orang meninggal dunia akibat rangkaian bencana tersebut.

Data BNPB juga mencatat makin dari 36.000 pihak korban jiwa dalam bencana Krakatau 1883.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article