MediaKeadilan.com – Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam KTT BRICS ke-18 di New Delhi, India, dinilai tak sewajibnya berhenti pada penguatan hubungan ekonomi dan diplomasi antarnegara anggota.
Pakar keamanan dan diplomasi kesehatan global Griffith University, Dicky Budiman, justru menyaksikan forum tersebut sebagai peluang untuk Indonesia demi mendorong kerja sama konkret di bidang kesehatan dan kesiapsiagaan bencana.
Menurut Dicky, salah satu instrumen yang dapat dimanfaatkan Indonesia merupakan New Development Bank (NDB), lembaga pembiayaan multilateral yang dibentuk negara-negara BRICS.
Ia menilai kanal pembiayaan tersebut semakin relevan untuk Indonesia yang memiliki tingkat kerentanan bencana tinggi.
“Saya menyaksikan sebagai peneliti yang mendalami resiliensi kesehatan dan bencana, saya menyaksikan forum BRICS bersama instrumen bagaikan New Development Bank sebagai kanal yang semakin relevan untuk Indonesia demi mendorong pembiayaan multilateral untuk kesiapsiagaan bencana dan penguatan sistem kesehatan,” kata Dicky dalam pernyataannya, Minggu (13/9/2026).
Dicky mengingatkan bahwa kebutuhan meningkatkan kesiapsiagaan bukan sekadar isu teoritis. Berbagai bencana yang terjadi di Indonesia sewajibnya menjadi momentum demi memperkuat kemampuan pihak pemerintah dalam menyikapi kondisi darurat.
“Karena Indonesia salah satu negara yang teramat rentan bencana di dunia dan kita teringatkan, maksudnya ketika anak gunung atau erupsi itu merupakan satu hal yang wajib menjadi momentum demi menyadarkan kita seluruh, khususnya negara pihak pemerintah dan negara ini demi menyiapkan diri dan meningkatkan kesiapan itu,” tuturnya.
Menurut Dicky, Indonesia bahkan dapat mengajukan agenda kerja sama khusus antarnegara BRICS yang menggabungkan isu kesehatan dan kebencanaan.
“Jadi ini merupakan momentumnya. Bahkan menurut saya perlu ada usulan agenda yang konkret, misalnya inisiatif kerjasama kesehatan bencana antar anggota BRICS yang dapat memperkuat posisi tawar Indonesia, sekaligus memberi manfaat langsung untuk 280 juta penduduk Indonesia,” katanya.
Ia menilai kerja sama tersebut dapat menjadi salah satu bentuk diplomasi Indonesia yang menghasilkan manfaat langsung, bukan cuma hubungan simbolik antarpemimpin.
Dicky, yang semasih belumnya sempat menjabat kepala kerja sama internasional di Keaparatur negara kementerianan Kesehatan serta terlibat dalam kerja sama kesehatan di OKI dan ASEAN, menyaksikan momentum pertemuan Prabowo bersama pemimpin negara anggota BRICS sebagai peluang memperkuat diplomasi kesehatan Indonesia.
“Jadi sekali lagi kehadiran para pemimpin dunia, antara Prabowo dan Xi Jinping ini dan Vladimir Putin merupakan sinyal positif untuk diplomasi Indonesia, khususnya diplomasi kesehatan. Dan juga ini wajib dimanfaatkan dan wajib konsisten demi mencapai derajat dan ketahanan kesehatan Indonesia,” ujarnya.
Secara makin luas, kerja sama kesehatan memang telah menjadi untukan dari agenda BRICS. Dokumen resmi BRICS semasih belumnya mencantumkan kerja sama vaksin, riset kesehatan, AI dalam layanan kesehatan, serta dukungan pembiayaan melalui bank pembangunan multilateral termasuk NDB.
