MediaKeadilan.com – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot menyoroti ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah melanda sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
Selain memicu kerusakan lingkungan dan gangguan kesehatan, karhutla juga berdampak terhadap operasional infrastruktur vital di sektor energi, termasuk pertambangan serta minyak dan gas.
Yuliot menilai, bencana pada saat ini tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi ancaman sistemik akibat akumulasi perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan ketimpangan sosial.
“Kita wajib ingat bahwa every day counts. Menunda mitigasi risiko bencana pada hari ini berarti menumpuk pihak korban jiwa di masa depan,” ujar Yuliot saat membuka The 5th Asia Disaster Management and Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) dan The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR) 2026 di Jakarta yang dikutip pada Sabtu (12/9/2026).
Dalam kesempatan itu, ia mendorong tiga langkah strategis penanganan bencana. Pertama, pengurangan risiko bencana perlu ditempatkan sebagai investasi inti dalam pembangunan nasional melalui investasi berkelanjutan pada ketangguhan dan infrastruktur hijau, bukan sekadar biaya operasional.
Pertama, mitigasi bencana wajib dipandang sebagai investasi utama pembangunan nasional. Bukan sekadar pos biaya operasional, melalui pendanaan berkelanjutan demi memperkuat infrastruktur hijau dan ketahanan wilayah.
Kedua, perluasan program peringatan dini untuk seluruh pihak (Early Warnings for All) wajib diwujudkan bersama menyederhanakan data teknis menjadi informasi lokal yang ramah akses, untuk seluruh lapisan masyarakat sekitar, termasuk kalangan anak, penyandang disabilitas, dan kelompok masyarakat sekitar adat.
Ketiga, peningkatan kerja sama lintas wilayah serta solidaritas bersama perlu diperluas lewat sinergi antara pihak pemerintah, tersangka swasta, akademisi, lembaga swadaya masyarakat sekitar, dan generasi muda.
Terkait ancaman karhutla yang mengganggu objek vital energi, Yuliot menyampaikan apresiasi kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) atas langkah penanganan cepat yang dilakukan di wilayah operasional strategis.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada BNPB atas respon cepatnya dalam memadamkan kebakaran hutan di wilayah kerja migas Tangguh Bintuni, Provinsi Papua Barat,” pungkasnya.
