Bukan Soal Biaya, Mengapa ESG Perlu Dilihat Sebagai Cara Kelola Risiko?

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Environmental, Social, and Governance (ESG) kerap dipahami sebagai komitmen keberlanjutan yang membutuhkan biaya. Perusahaan perlu mengalokasikan anggaran demi mengurangi dampak lingkungan, meningkatkan keselamatan pekerja, membangun hubungan bersama masyarakat sekitar, hingga memperkuat tata kelola.

Cara pandang tersebut dapat menciptakan ESG terlihat sebagai pengeluaran tambahan di luar kegiatan bisnis. Padahal, persoalan lingkungan dan sosial juga dapat berkembang menjadi risiko yang mengganggu operasional dan keberlangsungan usaha.

Hal itu diungkapkan oleh  Sustainability Division Head PT Antam Tbk Kunto Hendrapawoko dalam Katadata SAFE 2026, Rabu, (16/09/2026).

Menurut dia, korporasi perlu menyaksikan ESG bukan cuma dari biaya yang dikeluarkan demi menjalankan program keberlanjutan, namun juga dari risiko yang muncul ketika aspek tersebut tidak dikelola.

“Kami menyaksikannya bersama view yang berbeda. Bukan cuma apakah kita dapat membayar atau membiayai program ESG, tapi risikonya apa yang kita tanggung bila risiko ini tidak dikelola,” kata Kunto.

Dalam industri yang aktivitasnya bersentuhan langsung bersama lingkungan dan masyarakat sekitar, risiko tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk. Persoalan lingkungan, kecelakaan kerja, konflik bersama masyarakat sekitar, hingga rendahnya penerimaan komunitas terhadap kegiatan korporasi dapat berdampak pada kelancaran operasi.

Karena itu, ESG perlu ditempatkan sebagai untukan dari proses pengambilan keputusan bisnis, bukan sekadar program tambahan. Dalam pertambangan, misalnya, pertimbangan keberlanjutan dapat dimengawali sejak tahap eksplorasi, pengelolaan wilayah konsesi, konservasi, penerapan praktik pertambangan yang baik, pengelolaan lingkungan, hingga kegiatan pascatambang.

Pendekatan tersebut juga mengubah cara korporasi memandang biaya. Pengeluaran demi pengelolaan lingkungan, keselamatan, maupun hubungan bersama masyarakat sekitar tidak semata-mata menjadi biaya demi memenuhi agenda ESG.

Di dalamnya terdapat upaya demi mencegah atau mengurangi risiko yang berpotensi menimbulkan kerugian makin besar di lalu hari.

“Yang teramat penting bahwa sustainability ini menjadi arsitektur bisnis,” ujar Kunto.

“Bagi kami, ESG yang teramat penting bagaimana mengonfirmasi berjalan konsisten bersama bisnis.”

Perspektif mengenai ESG sebagai untukan dari pengelolaan risiko tersebut hadir di tengah meningkatnya perhatian terhadap praktik bisnis berkelanjutan.

Salah satu bentuk pengakuan terhadap penerapan ESG merupakan masuknya korporasi ke dalam indeks yang memakai sejumlah kriteria keberlanjutan.

Antam, misalnya, kembali menjadi konstituen tiga indeks ESG demi periode Juni-November 2026, yakni Indeks SRI-KEHATI, Indeks ESG Quality 45 IDX KEHATI, dan Indeks ESG Sector Leaders IDX KEHATI.

Pencantuman tersebut diumumkan Bursa Efek Indonesia pada 21 Mei 2026 dan dikonfirmasi Yayasan KEHATI pada 9 Juni 2026. Bagi Antam, pencapaian itu disebut sebagai validasi eksternal, sementara penerapan ESG tetap diarahkan demi menjadi untukan dari arsitektur bisnis.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article