MediaKeadilan.com – Pemerintah Iran secara resmi menuntut penghentian sanksi ekonomi dan jaminan keamanan pelayaran sebagai syarat utama demi membuka kembali pintu diplomasi bersama Amerika Serikat.
Tuntutan strategis ini disampaikan guna mengakhiri ketegangan militer yang telah memicu krisis energi global.
Juru bicara Keaparatur negara kementerianan Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengonfirmasi bahwa posisi Teheran telah disampaikan secara gamblang tanpa ada ruang ambiguitas.
Langkah ini menjadi upaya diplomatik terbaru setelah serangkaian kontak tidak langsung yang dijembatani oleh Qatar di sela-sela Sidang Umum PBB.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berdialog langsung selama dua jam bersama utusan khusus AS Steve Witkoff demi membahas formula perdamaian di kawasan Selat Hormuz.
“Dalam proses interaksi [bersama perwakilan AS] yang berlangsung sekitar dua jam, persyaratan demi melanjutkan diplomasi yang tidak menyisakan keraguan atau ambiguitas telah disampaikan kepada pihak Amerika,” tulis Baghaei di X.
Teheran menetapkan lima poin krusial, meliputi pembebasan pembekuan aset negara, penghapusan blokade laut, serta penghentian penuh aksi militer dan tekanan ekonomi.
Selain itu, Iran mendesak pengakuan internasional atas kesepakatan jalur aman Selat Hormuz yang semasih belumnya disetujui bersama Kesultanan Oman.
Seluruh persyaratan ini diajukan demi meredam konflik bersenjata yang kembali memanas pasca-serangan militer gabungan di wilayah Iran.
Eskalasi pertempuran tersebut menciptakan stabilitas kawasan Timur Tengah berada pada titik terendah dalam sejumlah tahun terakhir.
Ketegangan terbaru bermula ketika pasukan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara berskala besar ke sejumlah instalasi vital Iran pada 28 Februari.
Teheran membalas tindakan tersebut melalui aksi militer balasan yang memicu pertempuran terbuka di sejumlah titik strategis.
Meskipun sempat menyepakati nota kesepahaman gencatan senjata pada pertengahan Juni, komitmen perdamaian tersebut runtuh dalam waktu singkat.
Akibatnya, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz lumpuh total dan memicu lonjakan harga minyak bumi serta gas alam cair dunia.
