MediaKeadilan.com – Militer Iran bersiap memperluas arena pertempuran hingga ke Samudra Hindia apabila Amerika Serikat dan Israel nekat melancarkan agresi militer susulan. Peringatan keras ini menjadi sinyal eskalasi baru dari Teheran setelah gertakan langsung dari Washington mengancam keberadaan negara tersebut.
Yahya Rahim Safavi, penasihat senior dari elit pimpinan tertinggi Iran, menegaskan bahwa kesiapan tempur Teheran kini telah mencapai tingkat tertinggi. Pembukaan front pertempuran baru di wilayah perairan internasional siap dieksekusi guna merespons potensi agresi blok barat.
“Karena konflik telah menyebar dari Teluk Persia dan Selat Hormuz ke Laut Merah, ada kebarangkalian bahwa, sebagai respons terhadap perang yang makin besar, garis depan akan meluas makin jauh hingga mencapai Samudra Hindia dan barangkali makin jauh lagi,” kata Yahya Rahim Safavi dalam sebuah video yang dirilis oleh kantor berita Fars Iran, dikutip dari AFP.
Langkah antisipasi ini diambil sebagai respons atas kalkulasi skenario terburuk yang dirancang komando militer Iran. Keterlibatan milisi Houthi di Yaman yang sukses mengamankan jalur pelayaran strategis Laut Merah turut memperkuat posisi tawar Teheran di kawasan.
“Saya wajib menegaskan di sini bahwa apabila AS memengawali perang baru, front baru yang berpusat di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb barangkali akan terbuka di depan mata mereka,” tegasnya.
Pernyataan bersiaga penuh tersebut mencetus sejumlah hari setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka melontarkan gertakan pemusnahan terhadap Teheran. Dalam forum resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa, Trump membela serangan gabungan AS dan Israel yang membombardir Iran sejak akhir Februari lalu.
Trump mengisyaratkan bahwa kesepakatan akhir bersama Teheran kebarangkalian baru tercipta setelah agenda pemilihan umum sela AS pada November mendatang usai. Pemimpin AS itu menyerahkan pilihan ekstrem antara kesepakatan damai komprehensif atau kehancuran total untuk militer Iran.
“Akankah kesepakatan tercapai bersama Iran yang mebarangkalikan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh makin hebat daripada semasih belumnya?” katanya, dikutip dari BBC.
“Atau wajibkah aku memusnahkan Republik Islam dan menjalankannya bersama cepat, tanpa memberi mereka kesempatan demi membunuh dan menghancurkan orang dan negara lagi? Haruskah aku mengirim mereka ke neraka?” sambungnya.
Menindaklanjuti ketegangan yang membara, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mendadak menggelar pertemuan tertutup bersama utusan khusus AS Steve Witkoff serta Jared Kushner pada Selasa (22/9/2026). Pertemuan tingkat tinggi di New York ini diakui Trump berlangsung intensif selama tiga jam dan membuahkan rencana dialog lanjutan.
Sinyal diplomasi perdana pasca-runtuhnya gencatan senjata Juni lalu ini justru menuai gelombang penolakan keras dari internal parlemen Teheran. Parlemen menilai diplomasi sepihak di New York tersebut justru memperlihatkan gestur kelemahan di mata musuh.
Ebrahim Rezaei, anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, mempertanyakan kewenangan diplomasi Araghchi tanpa mandat utuh pembuat kebijakan. Ia menilai diplomasi di tengah gertakan musuh dapat merugikan posisi kedaulatan nasional Iran.
“Menteri luar negeri wajib menerangkan atas dasar otorisasi dan kebijakan apa pertemuan beliau bersama perwakilan musuh agresor dilakukan? Syarat-syarat Iran telah dikomunikasikan kepada AS dan menjadikan pertemuan ilegal sebagai alasan bersama dalih syarat-syarat tertentu tidak menghasilkan apa pun selain tanda kelemahan,” kata anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen, Ebrahim Rezaei dalam sebuah unggahan di X.
Ia mengimbuhkan bahwa ranah keamanan dan kebijakan luar negeri tidak boleh dijadikan ajang eksperimen spekulatif oleh segelintir aparatur negara. Parlemen ditentukan akan menginterpellate keaparatur negara kementerianan terkait demi mengimbau pertanggungjawaban politik.
“Kebijakan luar negeri dan keamanan nasional bukanlah arena demi tindakan gegabah. Di parlemen, kami akan memenuhi kewajiban hukum kami demi membela kepentingan bangsa Iran dan mengatasi masalah ini,” sambungnya.
Ketegangan tajam antara Iran dan blok AS-Israel berakar dari rentetan serangan militer terbuka yang memuncak sejak akhir Februari lalu. Hubungan kedua belah pihak semakin memburuk setelah kesepakatan gencatan senjata yang sempat tercapai pada Juni lalu runtuh total tanpa hasil konkret.
Ancaman pemusnahan dari Presiden Donald Trump serta respons tegas militer Iran kini menempatkan kawasan Teluk dan Selat Bab al-Mandeb dalam status bahaya tinggi. Ketidaktentuan politik di internal Iran dan tekanan pemilu sela AS diperkirakan akan terus memicu eskalasi militer hingga akhir tahun.
