Ledakan Keras Terdengar di Arab Saudi saat Bandara internasional Riyadh Baru Dibuka

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Suara ledakan keras mengguncang Riyadh pada Minggu (25/10) bertepatan bersama rencana pembukaan kembali bandara internasional. Pertahanan udara Arab Saudi mengintersepsi rintisan serangan udara saat otoritas penerbangan mengawali mengoperasikan kembali jadwal penerbangan.

Pemberontak Houthi menargetkan infrastruktur vital ini guna melumpuhkan perekonomian serta stabilitas keamanan kerajaan. Eskalasi terbaru ini menandai babak baru kehancuran kesepakatan damai yang semasih belumnya bertahan selama berintegrasi bertahun-tahun.

Dikutip dari CNA, data pemantauan penerbangan mencatat satu pesawat telah lepas landas pada Minggu pagi setelah operasional dihentikan dua pekan.

Insiden mematikan semasih belumnya menewaskan 13 orang dan melukai makin dari 300 pihak korban di lokasi yang sama.

Juru bicara militer Houthi Yahya Saree menegaskan bahwa kawasan fasilitas penerbangan tersebut masih berstatus zona bahaya.

“Angkatan Bersenjata Yaman memperingatkan seluruh maskapai penerbangan internasional, regional, dan lokal – serta staf dan penumpang – agar tidak memakai Bandara King Khalid di Riyadh, lantaran bandara tersebut tidak aman dan menjadi target militer untuk pasukan kami.”

“Rezim Saudi wajib menanggung akibat dari setiap operasi di bandara tersebut.”

Warga setempat menyambut baik peringatan darurat ancaman udara usai terdengar tiga kali dentuman beruntun di ibu kota.

Koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengklaim sukses menembak jatuh satu rudal balistik serta dua unit pesawat nirawak.

“Pertahanan udara menghadang dan menghancurkan rudal balistik yang diluncurkan oleh milisi teroris Houthi ke arah Riyadh,”

Gempuran masif Houthi dalam kurun 24 jam terakhir menyasar tiga bandara, kilang energi, pipa gas, dan pangkalan udara.

Pertahanan sipil juga mengamankan serpihan muatan bahan peledak yang jatuh di wilayah Mekkah dan Madinah.

Pihak Houthi membantah tuduhan penyerangan ke dua kota suci umat Islam tersebut dan menyebutnya sebagai propaganda semata.

Kelompok milisi turut menggempur pangkalan militer di Aden yang menjadi pusat kendali pihak pemerintahan Yaman sokongan Saudi.

Penguasaan pesisir Laut Merah oleh Houthi bulan lalu kian memperkeruh krisis politik regional dan mengganggu rantai pasok minyak dunia.

Latar belakang ketegangan ini berakar dari runtuhnya gencatan senjata antara Houthi dan pihak pemerintah Yaman yang didukung koalisi Saudi.

Dampak serangan beruntun ini menghambat upaya Arab Saudi dalam mentransformasi citra global serta menjaga stabilitas iklim investasi domestik.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article