MediaKeadilan.com – Laporan media ternama Amerika Serikat, The New York Times, membeberkan jurang pemisah antara klaim pertumbuhan ekonomi pihak pemerintah dan penderitaan riil masyarakat sekitar di lapangan. Publik di akar rumput kini justru merasakan dampak nyata dari kelesuan ekonomi yang makin menyerupai resesi.
Firma riset independen Capital Economics menegaskan bahwa klaim lonjakan ekonomi pada akhir tahun lalu amat bertentangan bersama indikator pelemahan di lapangan. Evaluasi tersebut menempatkan Indonesia dalam kondisi teramat rentan bergejolak sejak krisis moneter 1998.
Tekanan ekonomi ini menggerus daya beli dan memaksa sejumlah lulusan pendidikan tinggi terlempar ke sektor informal. Novri Putra (28), seorang sarjana teknologi informasi yang kini terpaksa menarik ojek online bersama penghasilan di bawah UMP Jakarta, merasakan langsung dampak pahit ini.
“Mereka barangkali merasa malu lantaran anaknya telah kuliah, namun akhirnya malah menjadi pengemudi ojek,” kata Novi, dikutip dari laporan The New York Times.
Gejolak di tingkat tapak ini semakin tajam lantaran penurunan kelas menengah yang diikuti ancaman instabilitas politik akibat himpitan hidup.
Sejumlah pengamat ekonomi menilai pola kerentanan yang terjadi pada saat ini berpotensi mengulang sejarah kelam tumbangnya rezim masa lalu. Mantan kepala ekonom Bank International Indonesia, Ferry Latuhihin, menyebut ketidak berhasilan tata kelola ekonomi dapat memicu dampak politik yang tidak terduga.
“Pada tahun 1997, tidak ada yang memprediksi bahwa Soeharto akan jatuh akibat ketidak berhasilan ekonomi. Saya yakin, skenario serupa dapat saja terjadi pada pihak pemerintahan pada saat ini,” kata Ferry Latuhihin kepada The New York Times.
Data statistik memperlihatkan populasi kelas menengah telah merosot hingga 19 persen dari level tertingginya. Di sisi lain, angka pengangguran generasi muda melonjak hingga kisaran 17 persen.
Pasar keuangan dalam negeri juga menyambut baik sinyal bahaya setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mempertimbangkan penurunan status pasar modal Indonesia. MSCI menilai penegakan hukum terhadap praktik manipulasi pasar di tanah air masih amat lemah.
Pakar manajemen portofolio Rayliant, Phillip Wool, menyebutkan bahwa risiko penurunan status MSCI ini sejatinya terisolasi pada pasar keuangan domestik. Namun, potensi kelumpuhan sektor riil Indonesia berisiko mengguncang rantai pasok dunia.
“Risiko ini benar-benar terbatas cuma pada Indonesia,” kata dia.
Keruntuhan komoditas utama Indonesia dapat memicu kenaikan harga bahan pangan dan energi di pasar Internasional. Sebagai pemasok utama minyak sawit, nikel, batu bara, hingga tembaga, gangguan produksi nasional akan langsung menghantam industri global.
Di dalam negeri, pencarian kerja menjadi semakin sengit akibat minimnya lowongan di sektor formal. Muhammad Fajar (21), seorang lulusan SMK teknik yang masih belum memperoleh pekerjaan meski telah melamar ke seratus korporasi, merasakan keterpurukan tersebut.
“Saya merasa kelas ekonomi saya telah turun,” kata Fajar.
Kombinasi tingginya harga minyak dunia dan lonjakan suku bunga di AS terus memicu arus keluar mata uang asing dari pasar domestik. Kondisi ini memperlemah nilai tukar Rupiah di tengah tingginya ketergantungan negara terhadap barang impor.
