Kemenkeu Optimistis Kejar Pertumbuhan 6% Lewat Kebijakan Fiskal Terukur

admin
By admin
3 Min Read

MediaKeadilan.com – Ketidaktentuan ekonomi global masih menjadi tantangan untuk sejumlah negara, mengawali dari arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat hingga dinamika harga energi dan perdagangan dunia. Di tengah kondisi tersebut, pihak pemerintah Indonesia menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 6 persen pada 2027. 

Untuk mencapai sasaran tersebut, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diarahkan tidak cuma sebagai penyangga gejolak ekonomi, namun juga sebagai penggerak investasi, konsumsi masyarakat sekitar, dan aktivitas dunia usaha.

Direktur Strategi APBN Keaparatur negara kementerianan Keuangan Wahyu Utomo menyebutkan, pihak pemerintah tetap optimistis terhadap prospek ekonomi nasional bersama tetap mencermati berbagai risiko global.

“Waspada wajib, panik jangan. Tetap optimistis, tapi optimismenya wajib realistis,” ujar Wahyu dalam Katadata Policy Dialogue bertajuk “Outlook Ekonomi 2027” di Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Menurut Wahyu, sejumlah indikator domestik masih menjadi modal demi menjaga momentum pertumbuhan, antara lain inflasi yang terkendali, neraca perdagangan yang surplus, cadangan devisa yang memadai, dan pertumbuhan kredit dua digit.

Kinerja APBN hingga September juga memperlihatkan perkembangan positif. Penerimaan negara tumbuh 25,5 persen, sementara itu belanja negara meningkat 19 persen. Pada periode yang sama, keseimbangan primer mencatat surplus Rp125,5 triliun.

Wahyu menerangkan, pihak pemerintah akan mengoptimalkan peran APBN sebagai shock absorber demi menjaga daya beli dan stabilitas harga, sekaligus mempercepat belanja produktif bersama tetap memperhatikan disiplin fiskal.

Tiga Strategi Pertumbuhan

Untuk mencapai target pertumbuhan 6 persen, Wahyu menerangkan, pihak pemerintah menyiapkan tiga pendekatan, yakni pragmatis, transformatif, dan diplomatis.

Pendekatan pragmatis berfokus pada penguatan sumber pertumbuhan yang telah ada, terutama konsumsi rumah tangga dan investasi. Karena itu, kebijakan fiskal akan diarahkan demi mendukung sektor-sektor produktif, bagaikan manufaktur, perdagangan, dan pertanian. 

Percepatan belanja serta pemberian insentif diharapkan dapat mendorong produksi, membuka lapangan kerja, dan menjaga daya beli masyarakat sekitar.

Sementara itu, pendekatan transformatif dilakukan melalui sinergi kebijakan fiskal dan sektor keuangan, termasuk mendorong investasi, industrialisasi, serta pengembangan industri berorientasi ekspor. Adapun pendekatan diplomatik diarahkan demi memperluas akses pasar, menarik investasi, dan membuka peluang perdagangan serta kesempatan kerja di luar negeri.

APBN Dukung Prioritas Pembangunan

Dalam rancangan APBN 2027, pendapatan negara ditargetkan mencapai Rp3.435,1 triliun dan belanja negara Rp4.106,3 triliun. Defisit anggaran direncanakan sebesar 2,4 persen terhadap PDB, masih di bawah batas 3 persen.

Belanja negara diarahkan demi mendukung berbagai prioritas, antara lain pendidikan sebesar Rp824 triliun, perlindungan sosial Rp539,7 triliun, kesehatan Rp244,9 triliun, serta ketahanan pangan Rp195,3 triliun.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article