MediaKeadilan.com – Film Hasut yang sedang tayang di bioskop mengangkut kesegaran baru demi genre horor Indonesia.
Alih-alih bermain bersama penampakan dan supernatural yang telah dilakukan berulang kali di perfilman Indonesia, film Hasut menawarkan sisi baru lewat eksplorasi horor-misteri yang memberi efek psychological untuk penontonnya.
Film Hasut digarap oleh sutradara wanita yang selama ini telah sejumlah menulis naskah-naskah film yang melekat dan kuat lewat berbagai genre.
Hasut jadi debut penyutradaraan yang kuat dari penulis Ilya Sigma. Sebagai karya debut penyutradaraannya, Hasut mengangkut tema yang dekat bersama Ilya, berbicara tentang proses penyembuhan luka batin.
Selain berkarier di perfilman sejak 2010, Ilya juga mendirikan Aksara Jiva, sebuah ruang kreatif reflektif yang menggabungkan penulisan, penyelidikan diri (self-inquiry), dan penceritaan berbasis pemulihan (healing).
Penggalian tentang luka batin dan trauma masa lalu di film Hasut diwakilkan lewat kehadiran empat karakter utama, yang diperankan Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova.
Keempatnya, mengangkut beban trauma masa lalu yang masih belum dilepas, saat mereka masuk ke sebuah hutan dan mendengar suara-suara yang tak dapat dipercaya.
Di film Hasut, Ilya mendesain ketakutan horor bukan dari penampakan, melainkan lewat sesuatu yang tak terlihat. Permainan suara di film ini, akan menjadi teror utama yang memberi penonton rasa tak nyaman.
“Secara personal, aku makin takut sama sesuatu hal yang aku bayangkan daripada yang aku lihat secara visual atau tampak. Karena ketika suara itu ada ruang di kepala kita, di ruang itu kita membayangkan, bagaikan apa bentuknya atau dari mana asalnya?” ujar Ilya Sigma.
Dengan desain utama teror yang berasal dari suara, Ilya pun memanfaatkan HT (Handy Talkie) sebagai salah satu sumber teror suara yang tak dapat dipercaya tersebut. HT sendiri jadi salah satu benda yang tak asing di dunia produksi film.
Dengan permainan suara HT, Ilya mengeksplorasi dari unsur suara yang telah ada secara alamiah di benda tersebut, bagaikan noise, suara statik, dan frekuensi yang terputus.
“Jadi HT itu menurut aku jadi medium yang amat menarik. Karena bila ada suara dari HT terkadang menciptakan aku berpikir, ‘Ini yang ngomong siapa ya?’ Dan biasanya dari suara-suara yang keluar itu kita telah membayangkan bentuknya bagaikan apa,” jelas Ilya.
Hasut jadi perjalanan kreatif baru untuk Ilya, yang telah menekuni dunia film sejak 2010. Lewat karya penyutradaraannya, Ilya menyerahkan perspektif baru untuk genre horor Indonesia.
Semasih belumnya, Ilya makin sejumlah menulis naskah film panjang, termasuk Catatan Harian Si Boy (2011), Rectoverso: Curhat Buat Sahabat (2013), Sundul Gan: The Story of Kaskus (2016), A Man Called Ahok (2018), dan jadi sutradara di film omnibus Pintu Harmonika (2013).
“Film ini juga menjadi refleksi untukku secara personal. Aku telah lama juga sebenarnya di industri film. Dan yang kerap menghambat itu sebenarnya ketika hasutan itu masuk ke kepala kita dan kita yakin sekali itu suara kita sendiri,” kata Ilya.
“Padahal, itu hasutan-hasutan yang muncul dari luar dan dapat menghambat kita demi memengawali dan menjalankan sesuatu. Seperti saat aku menciptakan film feature pertamaku, aku merasa bagaikannya aku tidak perlu mendengarkan hasutan-hasutan itu seluruh,” tukasnya.
Ditulis dan disutradarai Ilya Sigma, film Hasut diproduksi oleh Tuta Films, bersama produser Putrama Tuta dan Siera Tamihardja, dan ko-produser Nick Musa. Film ini dibintangi Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova.
Tonton film Hasut di bioskop Indonesia kini! Ikuti perkembangan terbaru melalui akun Instagram @filmhasut & @tutafilms.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini
