Desember Jani, Film tentang Konflik Ibu dan Anak yang Berawal dari Kepergian Sang Kakak

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Sepuluh hari setelah Julia pergi dari rumah tanpa pamit, Jani (13) cuma ingin kakaknya kembali. Namun, ia tahu kepergian Julia berkaitan bersama hubungan yang semakin renggang bersama sang ibu, Winnie.

Di tengah konflik keluarga tersebut, Jani diam-diam masih menjalin komunikasi bersama Julia. Sementara itu, Winnie justru semakin sibuk bekerja demi menutupi rasa bersalahnya. Hanya Oma yang masih dapat menjadi tempat Jani mencari ketenangan.

Selama empat hari di bulan Desember, Jani wajib menyikapi pilihan sulit: terus diam demi melindungi kakaknya atau akhirnya berani bicara kepada ibunya.

Kisah tentang hubungan ibu dan anak serta dinamika keluarga tiga generasi wanita ini diangkat dalam film Desember Jani, debut film panjang sutradara Ariani Darmawan.

Setelah menjalani pemutaran perdana dunia di Tokyo International Film Festival (TIFF) ke-39 dan meraih penghargaan Special Mention dalam kompetisi Asian Future, film produksi Palari Films ini akhirnya bertemu penonton Indonesia melalui Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2026.

Di JAFF 2026, Desember Jani akan menggelar Indonesian Premiere sekaligus berkompetisi dalam Indonesian Screen Awards.

Festival tersebut berlangsung selama delapan hari, mengawali 29 November hingga 6 Desember 2026 di sejumlah lokasi pemutaran di Yogyakarta.

Pemutaran perdana Desember Jani dijadwalkan pada Minggu (29/11/2026) pukul 18.10 WIB, disusul pemutaran kedua pada Senin (30/11/2026) pukul 18.05 WIB. Keduanya berlangsung di Empire XXI.

Selain itu, akan digelar Special Screening Jogjakarta pada Senin (30/11/2026) pukul 13.00 WIB bersama Kalis Mardiasih dan didukung V-Soy.

Mengangkat Kerja Perawatan Perempuan yang Kerap Tak Terlihat

Di balik konflik Jani dan keluarganya, Desember Jani turut mengangkat persoalan kerja perawatan atau invisible care labour yang kerap luput dari perhatian.

Kerja perawatan tersebut hadir melalui berbagai aktivitas sehari-hari, mengawali dari menyiapkan makanan, merapikan rumah, merawat orang tua lanjut usia, mengingat kebutuhan sekolah anak, hingga menjaga suasana rumah tetap hangat.

Pekerjaan domestik ini kerap tidak memperoleh pengakuan, bahkan tidak dibayar, dan masih kerap diasosiasikan sebagai tanggung jawab wanita.

Sutradara Ariani Darmawan mengemas persoalan tersebut melalui percakapan dan aktivitas sederhana dalam kehidupan keluarga. Konflik tidak dibangun lewat pertengkaran besar, melainkan tumbuh dari hal-hal kecil bagaikan obrolan di meja makan, makanan yang disiapkan tanpa diminta, hingga pesan yang tidak kunjung dibalas.

Program Director JAFF, Alexander Matius, menilai pendekatan penceritaan tersebut menjadi salah satu kekuatan film ini.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article