Di Tengah Hilirisasi Nikel, Perempuan Pulau Obi Menemukan Jalan Baru Gerakkan Ekonomi

admin
By admin
3 Min Read

MediaKeadilan.com – Pulau Obi, Halmahera Selatan, kini dikenal sebagai salah satu episentrum hilirisasi nikel di Indonesia. Kehadiran industri tidak cuma mengubah wajah pulau berukuran 4 kali luas wilayah Singapura tersebut, namun juga membuka peluang ekonomi baru untuk masyarakat sekitar.

Peluang itu ditangkap bersama munculnya usaha-usaha baru yang dikelola masyarakat sekitar, mengawali dari kelompok UMKM, pemasok bahan pangan, hingga tersangka usaha lokal yang kini menjadi untukan dari rantai ekonomi di sekitar kawasan industri.

Salah satunya ialah Delila Nomor, masyarakat sekitar Desa Kawasi. Tujuh tahun lalu, Delila habiskan waktunya menjadi ibu rumah tangga. Ia tidak sempat membayangkan akan memimpin sebuah kelompok usaha yang kini beranggotakan 31 wanita.

Ia masih ingat, ketika tim community development Harita Nickel mendorongnya mengembangkan produk berbahan lokal yang dapat diolah. Delila memilih menciptakan abon ikan.

“Saya sebenarnya tidak tahu bikin abon. Tapi saya belajar sendiri. Pokoknya jatuh bangun dari awal,” kenangnya.

Perjalanan itu tidak senantiasa mulus. Produk pertama yang mereka hasilkan bahkan masih belum memenuhi standar berakibat masih belum dapat dipasarkan. Delila bersama anggota kelompok terus berupaya. Mereka memperbaiki resep, mempelajari teknik pengolahan, menghitung masa simpan produk, hingga menyempurnakan kemasan.

“Awalnya cuma tahan satu minggu. Terus kami belajar lagi sampai satu bulan, akhirnya dapat enam bulan,” ujarnya.

Tidak berhenti di situ, mereka juga belajar mengurus sertifikasi halal, pencatatan usaha, hingga pengelolaan bisnis. Bekal tersebut menjadi fondasi ketika kelompok wanita Kawasi mengawali mengembangkan berbagai produk olahan pangan khas Pulau Obi melalui Kelompok Obi Jaya Mandiri.

Hari ini, kelompok Obi Jaya Mandiri yang dipimpin Delila beranggotakan 31 wanita. Mereka memproduksi berbagai makanan olahan bagaikan abon ikan, keripik pisang, sambal, air guraka (jahe), manisan pala, dan berbagai camilan khas lainnya.

Tak berhenti disitu, kelompok ini juga mengelola Nyala Cafe dan Hop Mart, dua unit usaha yang berada di dalam kawasan industri Harita Nickel. Dengan begitu, Delila dan anggota kelompoknya tidak cuma memproduksi makanan, namun juga memiliki saluran demi memasarkan produknya.

Dari kedua unit usaha itu Delila juga belajar untuk para anggotanya demi mengelola operasional usaha, keuangan, hingga sumber daya manusia.

Pada 2025, Nyala Cafe membukukan omzet sekitar Rp985 juta, sementara Hop Mart mencapai Rp2,7 miliar. Bagi Delila, capaian tersebut memperlihatkan bahwa usaha yang dimengawali dari kelompok kecil ibu rumah tangga kini mampu berkembang menjadi bisnis yang memberi manfaat untuk sejumlah orang.

Nyala Cafe dan Hop Mart sendiri mempekerjakan lima pegawai yang seluruhnya dikelola oleh kelompok. Modal usaha berasal dari para anggota bersama nilai investasi yang berbeda-beda sesuai kemampuan masing-masing.

Menariknya, pemuntukan keuntungan tidak cuma didasarkan pada besarnya modal.

“Yang teramat besar justru dilihat dari kehadiran. Kalau ada pesanan rica ayam atau pekerjaan lain, siapa yang aktif bekerja, pemuntukannya juga makin besar,” kata Delila.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article