Donald Trump Sebut Perang Iran Segera Berakhir Usai Pemilu AS

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Donald Trump meyakini perang antara Amerika Serikat dan Iran bakal mereda dalam waktu singkat. Pemimpin AS tersebut menduga Teheran sengaja mengulur durasi konflik demi memperkeruh atmosfer politik menjelang pemilu.

Pernyataan tersebut ia sampaikan selepas menjalankan perjumpaan resmi bersama Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin. Di hadapan media, ia kembali menegaskan posisi geopolitik Washington yang menepis keras ambisi nuklir Iran.

“Saya pikir dalam waktu amat dekat,” kata Trump ketika ditanya kapan perang tersebut akan berakhir.

“Saya pikir kebarangkalian tepat setelah masa pemilu.”

Pemerintah AS membaca taktik penundaan ini sebagai strategi politik luar negeri Teheran. Meski demikian, Washington mengonfirmasi bahwa pertahanan nasional tidak akan memberi ruang sedikit pun untuk pengembangan senjata pemusnah massal di wilayah tersebut.

“Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Ini amat sederhana,” katanya, seraya mengimbuhkan bahwa harga minyak akan turun tajam setelah konflik berakhir, dikutip dari Anadolu, Minggu (13/9/2026).

Kondisi keamanan di kawasan perairan vital Timur Tengah kini diklaim mengawali berbalik menguntungkan posisi Amerika Serikat. Trump menyebut milisi Houthi yang berbasis di Yaman mengawali melunakkan sikap politik militernya terhadap armada militer AS.

“Mereka tidak ingin berperang bersama kami,” kata Trump, seraya mengimbuhkan bahwa kelompok tersebut membiarkan seuntukan besar kapal melintas di jalur perairan tersebut.

Operasi maritim intensif terus dikerahkan pasukan AS demi mengamankan lalu lintas perdagangan internasional di wilayah tersebut. Penjagaan ketat di perbatasan laut sukses menyertakan aksi penyergapan armada asing yang mencurigakan saban harinya.

Pemerintah AS mencatat setidaknya ada 25 kapal yang sukses dihentikan setiap hari, terutama saat malam hari. Pengawasan super ketat ini terbukti membatasi ruang gerak kelompok bersenjata di koridor pelayaran strategis dunia.

Mengenai gejolak pasar energi global, Gedung Putih telah memperhitungkan potensi kenaikan harga bahan bakar akibat gesekan militer ini. Namun lonjakan biaya energi diprediksi melandai deras begitu tensi geopolitik bersama Iran resmi ditutup.

Selain persoalan Iran, Trump merespon keras gelombang kritik internasional yang mengagendakan isu krisis kemanusiaan di Palestina. Pihaknya menepis tuduhan yang menyebut kebijakan AS mendukung tindakan genosida atau perluasan wilayah kekuasaan Israel.

“Ketika Anda menyebutkan Gaza, Anda tahu kami telah memadamkan api dan kami memperoleh seluruh sandera,” katanya, merujuk pada upaya yang menurutnya telah mengamankan pembebasan dan pemulangan para sandera yang ditahan di Jalur Gaza.

Konflik antara AS dan Iran berakar dari eskalasi geopolitik Timur Tengah yang memanas seiring persaingan pengaruh regional dan program nuklir Teheran. Pembatasan ekonomi serta aksi saling balas di jalur pelayaran komersial makin memperkeruh stabilitas kawasan dalam sejumlah bulan terakhir.

Ketegangan ini menjalar hingga ke Laut Merah bersama keterlibatan kelompok Houthi serta memicu disrupsi pasokan energi dunia. Situasi tersebut menempatkan penyelesaian konflik Iran sebagai agenda utama yang berkelindan langsung bersama dinamika politik domestik AS.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article