Ekonomi RI Tumbuh 5,45%, Airlangga Punya PR Kejar Tambahan 0,55%

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Pemerintah menyikapi pekerjaan rumah baru setelah ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,45% pada semester I 2026. Angka tersebut menjadi modal penting demi mengejar target pertumbuhan ekonomi yang mendekati 6% pada akhir tahun.

Namun, target tersebut menyisakan tantangan. Pemerintah masih wajib mencari tambahan tenaga pertumbuhan agar ekonomi tidak berhenti di kisaran 5%.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan Presiden Prabowo Subianto telah mengimbau pihak pemerintah terus mendorong pertumbuhan hingga mendekati 6% pada akhir tahun.

“Semester I ini kita tumbuh 5,45%, dan ini merupakan pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir, termasuk di antara negara G20. Jadi menjelang sampai akhir tahun Bapak Presiden mengimbau kita mendorong supaya mendekati 6% di akhir tahun,” ujar Airlangga dalam keterangannya pada acara SUAR Forum 2026, Selasa (25/8/2026).

Dengan demikian, pihak pemerintah membutuhkan tambahan sekitar 0,55 poin persentase pertumbuhan dari capaian semester I tersebut.

Airlangga menyebut tambahan pertumbuhan itu tidak dapat cuma mengandalkan satu sektor. Pemerintah wajib mendorong investasi agar tumbuh makin cepat dibandingkan produk domestik bruto (PDB), sekaligus mengonfirmasi investasi tersebut masuk ke proyek yang memiliki nilai tambah tinggi.

“Dan tentu ini dapat menjadi tantangan dan juga wajib kerja keras,” katanya.

Untuk mengejar pertumbuhan yang makin tinggi, pihak pemerintah kini mengandalkan enam mesin pertumbuhan baru.

Pertama, hilirisasi dan upstreaming yang terus didorong melalui berbagai proyek baru. Pemerintah mencatat telah terdapat 26 proyek yang menjalankan groundbreaking.

Kedua, penguatan ketahanan energi melalui program swasembada energi. Salah satu langkahnya merupakan implementasi mandatori biodiesel B50 yang mengawali berjalan pada 1 Juli 2026.

Ketiga, pengembangan ekosistem bulion dan bank emas. Pemerintah mencatat ekosistem tersebut kini mengelola sekitar 179 ton emas bersama nilai mencapai Rp360 triliun.

Keempat, pengelolaan devisa hasil ekspor sumber daya alam melalui Danantara Sumberdaya Indonesia.

Kelima, pengembangan ekonomi digital, semikonduktor, dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Keenam, pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) dan kawasan industri sebagai pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Strategi tersebut memperlihatkan pihak pemerintah mengawali menggeser sumber pertumbuhan dari sekadar mengandalkan konsumsi domestik menuju investasi, industri bernilai tambah, teknologi dan ekspor.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article