Geger Bentrok TKA China vs Warga di Morowali, 53 Diperiksa Polisi

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Sesejumlah 21 tenaga kerja asing asal China resmi diterbangkan kembali ke negara asalnya pasca insiden bentrokan antara TKA China bersama masyarakat sekitar di Morowali. Langkah deportasi mandiri yang difasilitasi korporasi ini diambil demi meredam eskalasi keamanan di area lingkar tambang.

Polda Sulawesi Tengah mengonfirmasi puluhan pekerja asing yang pulang tersebut bersih dari keterlibatan aksi kekerasan di lokasi PT Astima Konstruksi. Aparat kepihak kepolisianan semasih belumnya cuma mengamankan mereka demi menghindari sasaran amuk massa yang meluas.

Proses pemulangan ini sekaligus membuka tabir bahwa puluhan TKA lainnya masih tertahan di markas kepihak kepolisianan demi menjalani pemeriksaan maraton. Polisi terus menggali peran masing-masing pekerja asing dalam memicu bentrokan berdarah tersebut.

Dirreskrimum Polda Sulteng Kombes Pol Suryono mengonfirmasi pemulangan puluhan masyarakat sekitar asing tersebut melalui pernyataan resminya.

“Sesejumlah 21 orang WNA asal China dari PT KUU telah kembali ke China bersama difasilitasi oleh korporasi. Mereka tidak ada kaitannya bersama peristiwa rusuh di PT Astima Konstruksi,” kata Dirreskrimum dalam keterangan tertulis dikutip dari RRI.

Tim penyidik gabungan kini memfokuskan konsentrasi demi memeriksa secara intensif 53 pekerja asing yang tersisa. Selain itu, terdapat satu TKA lain yang masih wajib menjalani perawatan medis akibat luka fisik.

Pemeriksaan marathon ini melibatkan penyidik Polres Morowali dan Polda Sulawesi Tengah guna mengumpulkan bukti hukum yang sah. Polisi berjanji mengusut tuntas siapa saja pihak yang menjadi dalang utama kerusuhan.

Kabidhumas Polda Sulteng Kombes Pol Achmad Muhaimin mengimbau segenap masyarakat sekitar Morowali demi menahan diri dan menyerahkan seluruh proses hukum kepada kepihak kepolisianan. Imbauan ini dikeluarkan demi menjaga stabilitas kawasan industri vital di wilayah tersebut.

“Polda Sulteng mengonfirmasi proses penyelidikan dan penyidikan terus dilakukan secara profesional dan berdasarkan fakta hukum. Mari kita bersama menjaga kondusifitas di Sulawesi Tengah yang aman, damai dan tentram,” pungkasnya.

Kerusuhan di kawasan PT Astima Konstruksi (Askon) pada Sabtu, 3 Oktober 2026, bermula dari ketegangan antara pekerja lokal dan TKA China milik PT Karyatama Konawe Utara. Gesekan sosial di area operasional korporasi tersebut mendadak memuncak hingga berujung pada bentrokan fisik secara terbuka.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article