MediaKeadilan.com – Harga minyak dunia Brent terus bertahan di atas level 100 dolar AS per barel akibat meningkatnya ancaman gangguan pasokan global. Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi militer terbesar antara Iran dan Amerika Serikat di jalur pelayaran vital sejak konflik berdarah keduanya pecah 6 bulan lalu.
Saling balas serangan terhadap kapal tanker di kawasan Teluk Persia kini mengancam stabilitas distribusi energi dunia secara jangka panjang. Para tersangka pasar minyak global kini bersiap menyikapi penurunan suplai yang jauh makin dalam dan berkepanjangan.
Data perdagangan mencatat kontrak berjangka minyak Brent naik 0,1 persen menjadi 101,34 dolar AS per barel pada pukul 01.07 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 0,5 persen hingga menyentuh angka 96,55 dolar AS per barel.
Militer Iran mengonfirmasi telah menggempur 10 kapal di sekitar Selat Hormuz sebagai balasan atas tindakan AS yang menenggelamkan lima tanker minyak mereka. Garda Revolusi Iran menegaskan bakal meluncurkan balasan yang jauh makin sengit apabila serangan armada Amerika terus berlanjut.
“Serangan balasan ini memperlihatkan bahwa aliran minyak dari Teluk Persia kebarangkalian besar akan tetap terganggu dalam jangka waktu yang masih belum dapat ditentukan,” kata analis ANZ Daniel Hynes dalam catatan kliennya.
Jalur lalu lintas laut di Selat Hormuz pada saat ini mencatatkan volume pengiriman yang merosot tajam jauh di bawah kapasitas normal semasih belum perang. Padahal, celah sempit ini semasih belumnya melayani pengiriman hampir seperlima dari total kebutuhan minyak dan gas bumi masyarakat sekitar dunia.
Badan Informasi Energi AS (EIA) resmi menaikkan proyeksi harga minyak demi pada tahun ini dan tahun depan. Langkah tersebut diambil setelah cadangan minyak mentah global terus tergerus akibat hilangnya pasokan utama dari kawasan Timur Tengah.
“Meluasnya konflik mengancam risiko gangguan yang makin dalam pada pasokan minyak, yang semasih belumnya telah menciptakan pasar minyak berjuang keras demi menyesuaikan diri,” kata Hynes.
Eskalasi militer di Timur Tengah ini menjadi puncak baru dari rentetan ketegangan bersenjata antara Washington dan Teheran selama semester terakhir. Penutupan atau gangguan akses navigasi di Selat Hormuz secara historis senantiasa menjadi pemicu utama guncangan harga energi dan inflasi global.
