Hidup Serba QRIS memang Praktis, Tapi Ada yang Harus Diperhatikan bagi Pelajar dan Mahasiswa

admin
By admin
4 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Di era digitalisasi ekonomi pada saat ini, kepraktisan bertransaksi memakai QRIS telah menjadi untukan tak terpisahkan dari gaya hidup harian pelajar dan kalangan akademisi.

Cukup bermodalkan ponsel pintar dan memindai kode Quick Response Indonesian Standard (QRIS), aktivitas pembayaran makanan di kantin hingga cetak tugas dapat diberakhirkan dalam hitungan detik.

Aktivitas pembayaran makanan di kantin, cetak tugas kuliah, hingga membeli kopi pada saat ini dapat diberakhirkan dalam hitungan detik tanpa perlu mengangkut uang tunai.

Fenomena transaksi non-tunai ini berkembang amat pesat di lingkungan sekolah maupun kampus.

Namun, di balik kenyamanan dan efisiensi tersebut, timbul sebuah pertanyaan penting “apakah kemudahan yang ditawarkan QRIS sepenuhnya menyerahkan keuntungan tanpa celah, ataukah ada aspek ‘semu’ yang perlu kita waspadai?”

Kemudahan dan Manfaat Nyata untuk Mahasiswa

Berdasarkan penelitian berjudul “Pengaruh Kemudahan dan Manfaat Bertransaksi Menggunakan Kode QR terhadap Keputusan Penggunaan Quick Response Indonesian Standard (QRIS) pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Riau” oleh Dwi Nur dan Meyzi Heriyanto yang diterbitkan dalam Jurnal Publikasi Sistem Informasi dan Manajemen Bisnis (JUPSIM), terungkap bahwa adopsi digital ini menyerahkan dampak yang nyata.

1. QRIS Sangat Mudah Dipelajari

Kemudahan menyerahkan pengaruh yang signifikan terhadap keputusan penggunaan QRIS.

Sifatnya yang praktis menciptakan kalangan akademisi Generasi Z yang melek teknologi dapat langsung beradaptasi tanpa hambatan teknis.

2. Efisien

Hal ini terbukti secara signifikan bahwa QRIS mempengaruhi keputusan bertransaksi.

Pengguna merasakan bahwa QRIS secara nyata mempermudah dan mempercepat proses pembayaran, menyerahkan efisiensi waktu di tengah kesibukan belajar, serta menyerahkan rasa aman dari risiko kehilangan uang fisik.

3. Pengaruh yang Kuat

Hasil analisis statistik dalam studi di Jurnal Publikasi Sistem Informasi dan Manajemen Bisnis (JUPSIM) tersebut memperlihatkan bahwa variabel kemudahan dan manfaat secara bersama-sama menyerahkan kontribusi sebesar 43,8% terhadap keputusan kalangan akademisi dalam memakai QRIS.

Keterbatasan dan Kemudahan yang Terkadang “Semu”

Kepraktisan QRIS memiliki batasan, tidak jarang terasa semu. Dalam praktiknya, pengguna kerapkali berhadapan langsung bersama berbagai hambatan teknis di luar kendali.

Mulai dari koneksi internet yang ngadat, baterai ponsel yang habis, gangguan server pada aplikasi pembayaran, sampai masih belum tersedianya layanan QRIS di warung-warung kecil.

Saat situasi-situasi tersebut datang, otomatis keunggulan efisiensi dari transaksi non-tunai ini jadi mendadak macet.

Hal-Hal yang Perlu Dicermati oleh Pelajar dan Mahasiswa

Lantas, apa saja hal yang perlu diperhatikan oleh pelajar dan kalangan akademisi dalam bertransaksi digital? Kita wajib makin bijak menyikapi gaya hidup serba digital ini.

1. Waspadai Phantom Spending (Pengeluaran Tanpa Sadar)

Karena uangnya tidak kelihatan wujud fisik yang berkurang secara nyata di dompet, kita kerap kali jadi makin gampang khilaf buat belanja hal-hal kecil yang bila ditumpuk tahu-tahu saldo digital telah habis di akhir bulan.

2. Selalu Sediakan Dana Cadangan (Uang Tunai)

Adanya kendala teknis bagaikan gangguan sinyal atau smartphone yang habis baterai, tetap menyiapkan sedikit uang tunai di dompet tetap menjadi langkah antisipasi yang penting.

3. Manfaatkan Fitur Riwayat Keuangan

Gunakan catatan transaksi (history) yang tersedia di aplikasi dompet digital atau mobile banking demi memantau dan mengevaluasi alokasi uang sakumu secara berkala.

Kontributor : Muhammad Ikhwan Nur Ariyansyah

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article