Kasus Marissa Anita, Saat Sebuah Foto Dibaca sebagai Simbol Kedekatan dengan Kekuasaan

admin
By admin
10 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia di Istana Negara pada 17 Agustus 2026 menyisakan perbincangan yang cukup ramai di media sosial. Kali ini, sorotan publik bukan tertuju pada jalannya upacara, melainkan pada sebuah foto yang memperlihatkan Marissa Anita bersama rekan-rekannya dari Pancatera berpose bersama Presiden Prabowo Subianto dan putranya, Didit Hediprasetyo.

Sekilas, foto tersebut barangkali terlihat sebagai dokumentasi biasa dari para tamu yang hadir dalam perayaan kenegaraan. Namun, unggahan tersebut justru memicu kritik dari seuntukan masyarakat sekitarnet.

Persoalannya bukan semata soal kehadiran di Istana. Bagi seuntukan audiens, foto tersebut dianggap bertabrakan bersama citra independen dan kritis yang selama ini melekat pada In Her View, program yang dibawakan Marissa Anita bersama Pancatera.

Lantas, mengapa sebuah foto bersama Presiden dapat memunculkan respons sedemikian besar? Apakah kehadiran di acara kenegaraan otomatis berarti keberpihakan politik? Atau, ada persoalan lain yang menciptakan publik membaca foto tersebut secara berbeda?

Untuk memahami polemik ini, ada sejumlah hal yang perlu dilihat.

Mengenal Marissa Anita dan In Her View

Marissa Anita dikenal sebagai jurnalis sekaligus aktris yang telah lama berkecimpung di dunia media dan seni peran. Pengalamannya di berbagai media nasional maupun internasional turut membentuk citranya sebagai sosok yang kritis dan reflektif.

Marissa merupakan salah satu sosok di balik In Her View, sebuah platform yang sejumlah mengangkat perspektif wanita dan isu-isu sosial.

Topik yang dibahas cukup beragam, mengawali dari kesetaraan gender, pemberdayaan wanita, kesehatan sosial, hingga pengalaman personal wanita dalam menyikapi berbagai persoalan di masyarakat sekitar.

Selama ini, In Her View juga membangun positioning sebagai ruang percakapan yang berani mengangkat isu sosial dari sudut pandang yang kritis dan berbeda.

Citra tersebut lalu membentuk ekspektasi tertentu di kalangan audiens. Mereka tidak cuma mengikuti program lantaran kontennya, namun juga lantaran nilai dan perspektif yang dianggap merepresentasikan karakter platform tersebut.

Mengapa Foto Bersama Presiden Dipersoalkan?

Kritik mengawali bermunculan setelah foto Marissa dan rekan-rekannya bersama Prabowo beredar di media sosial.

Bagi seuntukan masyarakat sekitarnet, kehadiran figur yang selama ini dianggap mengangkut suara kritis di ruang publik dalam sebuah acara resmi di Istana dipandang menimbulkan pertanyaan mengenai independensi.

Seuntukan lainnya bahkan mengaitkan foto tersebut bersama citra Marissa ketika memerankan tokoh Sipon, istri aktivis dan penyair Wiji Thukul, dalam film Istirahatlah Kata-Kata.

Film garapan Yosep Anggi Noen yang dirilis pada 2017 tersebut mengangkat kisah Wiji Thukul, aktivis yang hingga kini dikenal sebagai salah satu pihak korban penghilangan paksa.

Marissa memerankan tokoh Sipon, sementara itu Wiji Thukul diperankan Gunawan Maryanto.

Di media sosial, sejumlah masyarakat sekitarnet lalu menyandingkan foto Marissa bersama Prabowo di Istana bersama foto ketika dirinya memerankan Sipon.

Ada pula komentar yang mempertanyakan keputusan Marissa menghadiri acara tersebut dan menganggap kehadirannya tidak sejalan bersama citra yang selama ini dibangun melalui karya maupun program yang dibawakannya.

Namun, penting dicatat bahwa kritik dan interpretasi tersebut merupakan respons publik terhadap sebuah simbol visual. Kehadiran seseorang dalam sebuah acara kenegaraan, bersama sendirinya, tidak serta-merta membuktikan adanya afiliasi politik atau perubahan sikap politik.

Marissa Anita Minta Maaf

Setelah polemik berkembang, Marissa Anita akhirnya menyerahkan tanggapan melalui akun X pribadinya pada Selasa (18/8/2026).

Ia mengakui adanya kekeliruan dan menyampaikan permintaan maaf kepada para pendengar serta komunitas yang mengikuti In Her View.

“Kepada ViewHers yang kami cintai dan hormati, kami minta maaf atas tindakan kami yang keliru,” tulis Marissa Anita.
Marissa mengakui kehadiran dan unggahan foto dari Istana Negara telah memicu kekecewaan serta pertanyaan di tengah komunitas maupun masyarakat sekitar.

Menurutnya, kritik tersebut menjadi bahan evaluasi untuk mereka yang memiliki ruang publik.

“Kami memiliki tanggung jawab demi mempertimbangkan bersama makin matang setiap keputusan yang kami ambil,” lanjutnya.

Setelah polemik semakin ramai, Pancatera juga menyerahkan penjelasan melalui akun media sosialnya, termasuk Threads @Pancatera.

Dalam pernyataannya, Pancatera menyampaikan permintaan maaf kepada komunitas ViewHers dan masyarakat sekitar.

Mereka juga menegaskan bahwa In Her View dan Pancatera beroperasi secara independen serta didanai secara mandiri. Pancatera menegaskan tidak memiliki afiliasi bersama pihak pemerintah maupun lembaga politik mana pun.

Mengapa Publik Bisa Membaca Foto Secara Berbeda?

Untuk memahami mengapa sebuah foto dapat memunculkan reaksi yang begitu besar, persoalannya tidak cukup dilihat dari siapa yang hadir dan di mana foto tersebut diambil.

Peneliti di Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI), Wawan Kurniawan, menerangkan fenomena tersebut dari perspektif psikologi politik.

Menurut Wawan, foto tidak cuma berfungsi sebagai dokumentasi, namun juga dapat menjadi simbol yang membentuk persepsi publik.

“Secara psikologis, manusia memproses informasi sosial melalui asosiasi simbolik. Foto bukan sekadar dokumentasi momen. Ia berfungsi sebagai cue (petunjuk) yang secara otomatis mengaktifkan skema mental tertentu,” ujar Wawan kepada MediaKeadilan.com.

Ia menguraikan setidaknya empat hal yang menciptakan foto tersebut berpotensi memicu perdebatan.

1. Asosiasi bersama Kekuasaan

Pertama, adanya affiliation heuristic atau kecenderungan manusia menyimpulkan kedekatan berdasarkan siapa yang terlihat bersama.

“Otak kita cenderung menyederhanakan: ‘Siapa yang berdiri di samping siapa = siapa yang dekat bersama siapa.’ Dalam konteks kekuasaan, kedekatan fisik bersama tokoh politik tertinggi kerap dibaca sebagai tanda kedekatan emosional, ideologis, atau bahkan kepentingan,” jelasnya.

Menurut Wawan, persepsi semacam ini tidak senantiasa didasarkan pada bukti adanya hubungan atau transaksi tertentu.

Publik, kata dia, terkadang cukup menangkap kesan adanya kedekatan demi lalu membentuk interpretasi sendiri.

2. Ekspektasi terhadap Citra In Her View

Faktor kedua merupakan role expectation, yakni ekspektasi yang telah terbentuk terhadap peran dan karakter sebuah platform.

“In Her View selama ini membangun citra sebagai ruang diskusi yang relatif independen, kritis terhadap isu sosial, dan memberi ruang untuk perspektif yang tidak senantiasa sejalan bersama narasi resmi,” paparnya.

Karena itu, ketika pembawa acara muncul dalam acara kenegaraan dan mengunggah foto bersama Presiden, seuntukan audiens dapat merasakan adanya ketidaksesuaian antara citra yang mereka kenal bersama situasi yang mereka lihat.

“Ketika host-nya muncul di acara kenegaraan resmi dan mengunggah foto tersebut, terjadi disonansi kognitif di kalangan audiens. Mereka merasa ‘produk yang kami konsumsi’ tiba-tiba tidak konsisten bersama ‘nilai yang dijual’. Disonansi ini memicu reaksi defensif berupa kritik atau kekecewaan,” lanjut Wawan.

3. Istana Punya Simbol Kekuasaan yang Kuat

Lokasi foto juga ikut memengaruhi cara publik menafsirkannya.

Menurut Wawan, Istana Negara bukan sekadar tempat berlangsungnya sebuah acara. Istana memiliki simbol yang kuat sebagai pusat kekuasaan negara.

“Istana Negara bukan sekadar lokasi. Ia merupakan simbol institusi kekuasaan. Kehadiran di sana, apalagi di momen HUT RI yang amat resmi, secara psikologis dapat dibaca sebagai bentuk symbolic co-optation—proses di mana pihak independen ‘diserap’ ke dalam orbit kekuasaan melalui undangan dan eksposur,” jelasnya.

Kedekatan bersama pusat kekuasaan, lanjut Wawan, dapat memunculkan kekhawatiran publik bahwa independensi seseorang atau sebuah platform telah berkurang.

Meski demikian, persepsi tersebut tidak otomatis memperlihatkan bahwa independensi memang telah berubah secara faktual.

4. Kekuatan Foto di Media Sosial

Faktor terakhir merupakan karakter media sosial yang menciptakan sebuah gambar dapat menyebar jauh makin cepat dibandingkan penjelasan panjang.

“Di ruang media sosial, foto memiliki daya sebar dan daya interpretasi yang jauh makin tinggi daripada teks klarifikasi. Satu gambar dapat memicu ratusan interpretasi berbeda dalam hitungan jam,” kata Wawan.

Audiens yang sejak awal memiliki sikap kritis terhadap pihak pemerintah dapat membaca foto tersebut sebagai simbol kedekatan atau keberpihakan.

Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki prasangka politik tertentu barangkali menyaksikannya sebagai dokumentasi biasa dari sebuah perayaan nasional.

Perbedaan cara membaca inilah yang lalu memperbesar perdebatan.

Jadi, Mengapa Foto Ini Menjadi Polemik?

Pada akhirnya, polemik foto Marissa Anita dan kru In Her View bersama Presiden Prabowo tidak semata-mata tentang sebuah foto.

Di era media sosial, sebuah gambar dapat mengangkut makna yang jauh makin besar daripada konteks ketika gambar itu dibuat. Identitas orang yang ada di dalamnya, reputasi yang telah dibangun, lokasi pengambilan gambar, hingga persepsi politik audiens ikut menentukan bagaimana sebuah momen dibaca.

Bagi seuntukan publik, foto tersebut barangkali sekadar dokumentasi kehadiran dalam perayaan HUT RI di Istana. Namun untuk audiens yang selama ini menaruh kepercayaan pada citra kritis dan independen In Her View, momen yang sama dapat memunculkan pertanyaan tentang konsistensi dan posisi platform tersebut.

Karena itu, polemik ini pada dasarnya memperlihatkan satu hal penting: di ruang publik, independensi bukan cuma soal apa yang diyakini atau dikatakan, namun juga bagaimana sebuah tindakan dan simbol dibaca oleh audiens.

Klarifikasi Marissa dan Pancatera pun menjadi untukan dari upaya menjawab pertanyaan tersebut. Pada akhirnya, publik tetap memiliki ruang demi menilai, sementara pihak yang memiliki panggung publik dituntut demi menerangkan konteks di balik setiap keputusan yang berpotensi memengaruhi kepercayaan audiensnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article