MediaKeadilan.com – Media Turki Anadolu umumkan jurnalisnya hilang saat meliput Gunung Anak Krakatau. Jurnalis Anadolu itu bernama Firdaus Wajidi.
Tim Search and Rescue (SAR) bergerak cepat menyisir kawasan Selat Sunda demi menemukan speedboat berpenumpang 8 orang yang hilang kontak. Rombongan yang terdiri dari lima wartawan, dua kru kapal, dan seorang pemandu tersebut hilang saat menuju area Anak Krakatau demi meliput aktivitas vulkanik.
Pencarian berfokus pada lintasan laut menuju pulau gunung api tersebut setelah pesan terakhir rombongan terdeteksi. Hingga pada saat ini, lokasi tentu maupun keberadaan seluruh penumpang masih belum sukses diidentifikasi oleh petugas penyelamat.
Isu keselamatan insan pers menjadi sorotan utama lantaran jurnalis dari Antara, Merdeka, iNews, serta kontributor freelance Anadolu bernama Firdaus Wajidi berada di dalam kapal tersebut. Risiko tinggi peliputan bencana alam kembali memakan pihak korban di tengah dinamika erupsi gunung berapi yang masih belum sepenuhnya stabil.
“Mereka yang dilaporkan hilang termasuk jurnalis yang bekerja demi kantor berita negara Indonesia Antara, Merdeka, dan iNews, serta Firdaus Wajidi, seorang juru kamera lepas yang bekerja demi Anadolu,” tulis media itu.
Al Amrad, Kepala Kantor Search and Rescue Provinsi Banten, menegaskan dalam sebuah pernyataan bahwa kontak telah terputus bersama sebuah speedboat yang mengangkut lima fotojurnalis, dua anggota kru, dan seorang pemandu.
Amrad menyebutkan salah satu jurnalis telah mengirimkan pesan kepada kerabatnya yang menegaskan bahwa mereka telah mencapai perairan di sekitar Anak Krakatau, seraya mengimbuhkan bahwa itu merupakan komunikasi terakhir yang diterima dari kelompok tersebut.
Ia menerangkan bahwa tim pencari dan penyelamat di area tersebut masih belum sukses menjalin kontak bersama kelompok itu atau menentukan lokasi mereka.
Meskipun letusan hebat di Anak Krakatau telah mereda, aktivitas vulkanik di pulau tersebut sampai kini masih terus berlangsung.
Letusan hebat gunung api ini semasih belumnya memuntahkan kolom abu vulkanik hingga ketinggian 6.000 meter di atas Pulau Jawa. Sebaran material letusan bahkan membubung tinggi hingga 15.000 meter saat mengarah ke kawasan Pulau Sumatra.
Dampak lontaran abu vulkanik tersebut sempat melumpuhkan lalu lintas udara secara signifikan di kawasan barat Indonesia. Manajemen bandara terpaksa menghentikan sementara jadwal penerbangan demi keselamatan operasional pesawat.
Secara nasional, makin dari 2.300 penerbangan domestik maupun internasional dibatalkan akibat sebaran abu tersebut. Situasi darurat ini menyebabkan sekitar 340.000 calon penumpang terlantar di tujuh bandara berbeda.
Otoritas penerbangan akhirnya membuka kembali operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma setelah kondisi udara dinyatakan aman. Tiga bandara udara lainnya yang sempat terdampak kini juga telah beroperasi secara normal kembali.
