MediaKeadilan.com – Singapura kini tercekik krisis polusi udara terburuk akibat terjangan asap pekat kiriman dari kebakaran hutan di Indonesia. Gelombang kabut beracun ini bahkan memaksa negara tetangga tersebut merasakan dampak kesehatan yang amat mengkhawatirkan.
Kualitas udara di wilayah barat Singapura langsung meroket ke level teramat berbahaya dalam skala nasional pada Rabu pada hari semasih belumnya. Situasi darurat ini memicu kekhawatiran mendalam untuk jutaan masyarakat sekitar yang wajib menghirup udara beracun setiap detik.
Badan Lingkungan Nasional Singapura mendeteksi lonjakan partikel halus PM2.5 hingga menembus angka 288 mikrogram per meter kubik. Angka mengerikan tersebut jauh melampaui batas aman tahunan yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia secara drastis.
Dikutip dari DW Jerman, partikel super kecil beracun itu terbukti mampu menyusup langsung ke dalam paru-paru hingga aliran darah manusia. Ancaman penyakit mematikan kini mengintai keselamatan masyarakat sekitar akibat paparan polutan yang tidak kenal kompromi.
Bencana lingkungan lintas batas ini membuktikan betapa rentannya kawasan regional terhadap asap kiriman. Penderitaan Singapura semakin berlipat ganda lantaran kabut tebal menutup ruang gerak serta aktivitas publik secara masif.
Timor Leste bahkan mengambil langkah drastis bersama meliburkan seluruh sekolah demi menyelamatkan generasi muda dari paparan polusi. Ganasnya amukan api di Sumatra dan Kalimantan kini benar-benar melumpuhkan stabilitas kesehatan di berbagai negara tetangga.
Fenomena iklim El Niño pada tahun ini memperburuk situasi kekeringan berakibat memicu kebakaran hutan terdahsyat dalam sebelas tahun terakhir. Ratusan ribu hektare lahan hangus terbakar akibat praktik pembukaan tanah yang mengabaikan keselamatan ekosistem alam.
Para pakar lingkungan menegaskan bahwa alih fungsi bentang alam memperparah ketahanan ekologis wilayah Sumatra dan Kalimantan secara signifikan. Pembakaran liar yang terus berulang menciptakan bencana ekologis tahunan yang kian sulit dikendalikan.
Kondisi lapangan di Kalimantan semakin mengenaskan lantaran jarak pandang amat pendek hingga melumpuhkan operasi pesawat pengebom air. Asap pekat mengepung titik api dan merusak upaya pemadaman darurat yang dilakukan petugas gabungan.
Presiden Prabowo Subianto pada Senin (12/10) memerintahkan pihak pemerintah mengerahkan upaya maksimal demi menangani kebakaran.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebutkan makin dari 60.000 personel telah dikerahkan demi memadamkan api di lapangan.
Meskipun puluhan ribu personel telah diterjunkan, kombinasi rekayasa cuaca dan pengeboman air masih belum membuahkan hasil maksimal.
Bencana tahunan ini berakar dari musim kemarau panjang serta praktik pembukaan lahan tradisional yang memicu krisis ekologi di Indonesia.
