MediaKeadilan.com – Anggota DPD RI, Ni Luh Djelantik menyinggung Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dinilainya kerap berbicara mengenai kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Namun, Ni Luh mempertanyakan apakah Gibran benar-benar memahami teknologi tersebut. Ia menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara dalam IABC Indonesia Conference 2026.
“Hari ini kita memiliki seorang wakil kepala negara yang menyebutkan AI, AI, AI, tapi saya juga tidak yakin apakah dia paham tentang AI atau tidak,” kata Ni Luh, Jumat (18/9/2026).
Ni Luh lalu mengaitkan pembicaraan mengenai AI bersama persoalan literasi dasar yang masih dihadapi seuntukan anak Indonesia.
Ia mempertanyakan jumlah provinsi yang masih memiliki anak usia SMP yang masih belum mampu membaca.
“Ada berapa provinsi yang pada hari ini anak SMP-nya tidak dapat baca?” ujarnya.
Menurut Ni Luh, persoalan tersebut juga masih ditemukan di Bali. Ia menyebut ada kabupaten di Bali yang siswanya telah duduk di bangku SMP dan SMA namun masih belum dapat membaca.
“Di Bali ada kabupaten yang siswanya duduk di baku SMP dan SMA tidak dapat membaca,” kata dia.
Ni Luh lalu membandingkan kebiasaan membaca pada masa lalu bersama kondisi kalangan anak pada saat ini yang semakin dekat bersama perangkat dan teknologi digital.
“Karena bila dulu kita membaca bersama bagaikan ini, masih belum ada Kindle dan lain sebagainya, bila pada hari ini kalangan anak kita, they use that, they don’t read the title anymore, they don’t read the, you know,” ujar Ni Luh.
Pernyataan tersebut disampaikan Ni Luh dalam konteks pembahasan mengenai perkembangan teknologi dan kemampuan literasi.
Ia menyoroti pentingnya mengonfirmasi kemampuan dasar anak tetap menjadi perhatian di tengah perkembangan teknologi, termasuk ketika pembicaraan mengenai AI semakin kerap muncul di ruang publik.
