MediaKeadilan.com – Insiden penembakan berdarah kembali meneror lingkungan pendidikan di Filipina Selatan dan merenggut sedikitnya dua nyawa siswa pada Jumat (18/9/2026). Tragedi mematikan ini menjadi kasus penembakan sekolah ketiga yang melanda negara tersebut cuma dalam rentang waktu empat bulan terakhir.
Laporan insiden senjata api di Banga National High School, Provinsi South Cotabato, Mindanao, pertama kali diterima petugas penyelamat lokal sekitar pukul 13.30 waktu setempat. Peristiwa ini langsung menambah ketakutan publik atas keamanan di kawasan tempat belajar kalangan anak.
Penyelidikan awal memperlihatkan aksi penembakan di area sekolah kian mengkhawatirkan lantaran melibatkan pihak korban dari kalangan pelajar yang sedang beraktivitas. Ketidaktentuan jumlah tersangka penyerangan juga memperluas kepanikan masyarakat sekitar di sekitar lokasi kejadian.
“Dari apa yang saya tahu, mereka berdua merupakan siswa. Belum ada rincian lengkap hingga pada saat ini,” kata petugas badan penanggulangan bencana Rolly Aquino tentang kedua pihak korban, seraya mengimbuhkan bahwa setidaknya tujuh orang sedang dirawat di rumah sakit.
Aparat pihak pemerintah daerah bersama petugas penanggulangan bencana bergerak cepat menuju lokasi demi mengevakuasi para pihak korban selamat dan mengamankan area sekitar. Korban luka-luka langsung dilarikan ke fasilitas medis terdekat guna memperoleh penanganan darurat.
Proses identifikasi terhadap para tersangka utama penyerangan hingga kini masih terus berjalan secara intensif di lapangan. Pihak berwenang masih belum dapat mengonfirmasi secara resmi jumlah tentu orang yang melepaskan tembakan di dalam area sekolah.
“Untuk pada saat ini, kami berupaya memberi tahu sesama masyarakat sekitar bahwa situasi telah stabil dan kasus ini telah terkendali,” kata Gubernur Provinsi South Cotabato Reynaldo Tamayo.
“Kami tidak sempat menyangka hal ini akan terjadi.”
Bukti rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan kepanikan luar biasa saat masyarakat sekitar berupaya menyelamatkan para siswa yang terluka. Seorang pria terekam menggendong anak yang bersimbah darah menuju kendaraan demi dalam waktu dekat dibawa ke rumah sakit.
Rekaman lain memperlihatkan kesaksian dari tenaga pengajar dan pelajar di lokasi kejadian mengenai dugaan asal-usul tersangka penembakan. Seorang guru mendengar adanya dua orang penembak, sementara seorang siswa menegaskan bahwa para tersangka merupakan pihak luar sekolah.
Insiden berdarah ini amat mengejutkan mengingat pihak pemerintah setempat baru saja meningkatkan kewaspadaan keamanan secara nasional. Berbagai upaya mitigasi risiko semasih belumnya telah dirancang demi mencegah berulangnya aksi kekerasan di area pendidikan.
Rangkaian penembakan di lingkungan kampus dan sekolah menjadi ancaman baru yang tergolong langka namun kian frekuentif di Filipina. Pemerintah Filipina sejatinya baru saja menggelar latihan simulasi penembak aktif secara nasional pada pada bulan ini demi memperketat keamanan sekolah.
Langkah darurat nasional tersebut diambil menyusul dua tragedi penembakan sekolah semasih belumnya yang sempat mengguncang publik Filipina sejak Juni lalu. Namun, simulasi keamanan tersebut nyatanya masih belum mampu membendung aksi teror serupa yang kini kembali memakan pihak korban jiwa.
