Penipuan Makin Meyakinkan Berkat AI, Bitdefender Bawa Teknologi Deteksi Deepfake ke RI

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Membedakan pesan asli dan penipuan di internet dapat semakin sulit ketika tersangka mengawali memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI). Teknologi ini dapat dipakai demi menciptakan modus penipuan makin meyakinkan, sementara pengguna kerap kali baru menyadari telah tertipu setelah data pribadi atau uang mereka terlanjur berpindah tangan.

Ancaman ini bukan perkara kecil di Indonesia. Data Global Anti-Scam Alliance (GASA) yang dikutip Bitdefender memperlihatkan, 66 persen orang dewasa Indonesia sempat merasakan penipuan dalam satu tahun terakhir.

Melihat risiko tersebut, korporasi keamanan siber Bitdefender menggandeng Gema Informatika Abadi (PT GIA) demi mengangkut seluruh lini produk keamanan konsumennya ke Indonesia. Kerja sama distribusi eksklusif ini diumumkan pada 8 Oktober 2026.

Produk yang ditawarkan mencakup perlindungan komputer dan ponsel, keamanan identitas digital, privasi, hingga perangkat anti-penipuan (anti-scam) dan teknologi pendeteksi deepfake.

AI Bikin Penipuan Lebih Sulit Dikenali

Pelaku penipuan kini dapat memanfaatkan AI demi menciptakan pesan yang terdengar meyakinkan dan menjalankan aksinya dalam skala makin besar.

Ancaman juga datang dari deepfake, yakni konten gambar, video, atau suara buatan AI yang dibuat menyerupai orang sungguhan. Dalam situasi tertentu, konten bagaikan ini dapat dimanfaatkan demi menyamar sebagai orang yang dikenal pihak korban atau membangun kepercayaan semasih belum mengimbau uang dan informasi sensitif.

Senior Vice President of Operations Bitdefender Consumer Solutions Group, Ciprian Istrate, menyebutkan AI menciptakan tersangka kejahatan siber memiliki makin sejumlah cara demi melancarkan serangan.

“Pelaku kejahatan siber memakai AI demi menjalankan kampanye penipuan yang meyakinkan dalam skala besar serta menyebarkan malware, berakibat konsumen menyikapi risiko yang semakin besar,” ujar Ciprian.

Karena itu, perlindungan digital yang ditawarkan Bitdefender tak cuma menyasar virus di komputer. Perusahaan juga mengangkut solusi demi menyikapi phishing, penipuan online, pencurian identitas, dan ancaman terhadap privasi pengguna.

Banyak Pengguna Masih Andalkan Keamanan Bawaan Ponsel

Ponsel menjadi perhatian tersendiri lantaran perangkat ini digunakan demi berbagai aktivitas penting, mengawali dari belanja online hingga membayar tagihan.

Namun, survei global terhadap 7.000 konsumen yang dikutip Bitdefender menemukan 48 persen responden tidak memakai solusi keamanan pihak ketiga di ponsel mereka.

Padahal, 53 persen memakai perangkat tersebut demi aktivitas sensitif, termasuk pembayaran dan belanja online.

Survei yang sama mencatat satu dari tujuh responden sempat menjadi pihak korban penipuan dalam setahun terakhir.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article