MediaKeadilan.com – Serangan balistik milisi Houthi kembali mengancam wilayah vital Arab Saudi usai puing pencegatan rudal meledak dan jatuh mendekati kawasan suci Makkah. Kesuksesan sistem pertahanan udara merontokkan amunisi udara ini menghindarkan kawasan padat penduduk dari dampak kehancuran yang makin luas.
Puing balistik yang hancur di udara terhempas hingga ke area Wadi Al-Mughammas, wilayah yang cuma berjarak 20 kilometer dari Masjidil Haram. Sejumlah pecahan proyektil lainnya merusak sejumlah area di kota penunjang bagaikan Jeddah, Taif, dan Rabigh.
Eskalasi pertempuran udara ini menandai ancaman keamanan teramat berani yang langsung mengarah ke jantung peribadatan umat Islam. Militer Kerajaan memperlihatkan kesiapsiagaan tinggi dalam mematahkan gempuran udara yang dilancarkan secara beruntun dari Yaman.
Otoritas keamanan mengonfirmasi pecahan proyektil tersebar di empat lokasi strategis wilayah barat Kerajaan. Penanganan cepat langsung dilakukan di area permukiman guna mengamankan sisa-sisa material berbahaya.
Juru bicara Pertahanan Sipil Arab Saudi mengarahkan penanganan lapangan begitu puing rudal ditentukan tak menimbulkan dampak fatal.
Laporan resmi medi Arab, mereka mengonfirmasi tidak ada pihak korban jiwa maupun kerusakan bangunan yang parah akibat jatuhnya material rudal tersebut. Penyelidikan intensif masih terus berlangsung demi mengidentifikasi seluruh sebaran pecahan amunisi militer ini.
Pencegatan ini melanjutkan gelombang gempuran balistik yang mengincar wilayah Riyadh, Taif, dan Yanbu sehari semasih belumnya. Pasukan koalisi juga menyergap satu pesawat nirawak yang melintas di atas langit Provinsi Timur.
Kelompok milisi asal Yaman ini secara sistematis mengarahkan sasaran serangan ke objek vital serta infrastruktur energi Kerajaan. Target gempuran bahkan mengawali merembet ke kawasan pusat peradaban Islam di Makkah dan Madinah.
Lembaga keagamaan tertinggi Kerajaan langsung bereaksi keras atas rentetan aksi penyerangan yang terus berulang tersebut.
“Serangan-serangan tersebut sebagai tindakan agresi yang amat serius terhadap umat Islam,” tegas Dewan Ulama Senior Arab Saudi merespons ancaman tersebut.
Aksi militer kali ini menembus rekor ancaman keamanan setelah insiden berdarah di ibu kota sejumlah pekan semasih belumnya. Serangan teramat fatal terjadi ketika amunisi milisi menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.
Peristiwa pada 10 Oktober itu memicu krisis keamanan besar usai merenggut 13 pihak korban jiwa dan melukai makin dari 300 orang. Situasi tersebut mempertegas eskalasi konflik terbuka antara pasukan koalisi pihak pemerintah Yaman dan milisi Houthi.
Peningkatan frekuensi serangan udara ini memicu perhatian internasional terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Arab Saudi terus memperketat pengawasan benteng udara demi melindungi fasilitas publik serta kawasan suci dari ancaman proyektil lanjutan.
