MediaKeadilan.com – Menteri Keuangan Suahasil Nazara memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai sekitar 5,5 persen di tahun 2026 meskipun tekanan ekonomi global makin menguat.
“Ekonomi Indonesia di tahun 2026 diperkirakan tumbuh di sekitar 5,4–5,5 persen year-on-year,” katanya dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dikutip Rabu (4/11/2026).
Menkeu Suahasil memperkirakan bila pertumbuhan ekonomi Indonesia selama triwulan III 2026 periode Juli-September tetap kuat di tengah tekanan global.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi RI yang nantinya diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) itu bakal ditopang oleh permintaan domestik dan kinerja ekspor yang positif. Pemerintah juga akan menyerahkan stimulus fiskal demi mendorong konsumsi rumah tangga.
“Konsumsi rumah tangga didorong oleh berlanjutnya berbagai stimulus fiskal pihak pemerintah,” lanjut dia.
Bendahara Negara menjanapabilan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan terus berfungsi sebagai peredam kejut (shock absorber) melalui subsidi, kompensasi, perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan, dan berbagai program penciptaan lapangan kerja.
Ia melanjutkan, investasi juga diperkirakan tumbuh kuat seiring bersama proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur dalam program prioritas pihak pemerintah. Sementara itu, konsumsi pihak pemerintah didukung oleh percepatan belanja dan penyaluran bantuan sosial.
Sedangkan di sisi eksternal, tambah Suahasil, kinerja ekspor nonmigas meningkat dan semakin didorong demi memanfaatkan momentum kenaikan harga dan permintaan komoditas ekspor.
Lebih lanjut ia membuktikan bila kinerja positif perekonomian didukung oleh sejumlah indikator bagaikan penjualan mobil dan motor yang tumbuh masing-masing 28,1 persen yoy dan 15,4 persen yoy per September 2026.
Ada pula Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur yang melanjutkan ekspansi dari level 52 di September 2026 menjadi 54 di Oktober 2026.
Dengan bekal itu, Pemerintah akan memperkuat sinergi kebijakan antara Keaparatur negara kementerianan Keuangan, Bank Indonesia (BI), hingga BPI Danantara.
“Untuk mempertahankan momentum pertumbuhan, penguatan sinergi kebijakan pihak pemerintah dan BI, serta kolaborasi pihak pemerintah dan Danantara melalui pendekatan Two Arms of the State terus diperkuat demi menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan bernilai tambah tinggi,” jelas Suahasil.
