Tak Cuma Membunuh, Israel Bikin Bodoh Anak-anak Palestina dengan Cara Ini

admin
By admin
4 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Tahun ajaran baru di Masafer Yatta dibuka bersama ketakutan luar biasa setelah pasukan militer Israel meratakan fasilitas pendidikan masyarakat sekitar Palestina pada 4 Agustus lalu. Pembongkaran dua ruang administrasi dan satu ruang penyimpanan di Sekolah Shaab al-Butum menjadi bukti nyata eskalasi penindasan yang menghancurkan ruang belajar kalangan anak di Tepi Barat.

PBB mencatat dalih Klasik Israel mengenai ketiadaan izin bangunan Area C kerap dipakai demi menghapus hak belajar kalangan anak Palestina secara terstruktur. Padahal, otoritas pendudukan hampir tidak sempat menerbitkan izin pembangunan untuk masyarakat sekitar lokal di wilayah kontrol penuh militer mereka.

Pola penghancuran sistematis ini mengancam keberlangsungan hidup komunitas lokal yang menjadikan sekolah sebagai benteng terakhir pertahanan wilayah mereka. Ketidaktentuan hukum kini merampas ruang aman kalangan anak semasih belum buldoser militer benar-benar merobohkan sisa ruang kelas yang ada.

Anak-anak bagaikan Farah (17), Mohammed (8), dan Jawad (7) kini wajib menanggung beban trauma psikologis saban hari saat melangkah ke sekolah. Fasilitas Shaab al-Butum yang menjadi satu-satunya tempat belajar di desa tersebut kini terancam rata bersama tanah sepenuhnya dalam persidangan 15 September mendatang.

Farah menceritakan bahwa sekolah tersebut merupakan satu-satunya tempat yang sempat ia singgahi demi menimba ilmu.

“Saya takut bersama apa yang akan terjadi kini,” ujar Farah kepada Al Jazeera.

Mohammed menyuarakan ketakutan serupa mengenai masa depan tempat belajarnya yang terus mengencang.

Ia khawatir pasukan Israel akan kembali demi merobohkan apa yang tersisa dari sekolah tersebut. Sementara itu, Jawad membeberkan kesedihannya menyaksikan kondisi sekolah yang rusak dan menginginkan agar tempat belajarnya dapat kembali bagaikan semula.

Kepala Dewan Lokal Masafer Yatta, Nidal Younis, menilai ancaman fisik terhadap ruang kelas merupakan untukan dari strategi pengusiran paksa penduduk Palestina secara perlahan. Penetapan wilayah tersebut sebagai zona tembak militer sejak 1980-an menjadi alat legitimasi demi menggusur pemukiman masyarakat sekitar lokal.

Eskalasi serangkaian serangan kini menyasar seluruh sendi kehidupan masyarakat sekitar di kawasan terisolasi tersebut tanpa henti. Seluruh dari tujuh sekolah yang berdiri di wilayah Masafer Yatta pada saat ini berada dalam status terancam pembongkaran oleh otoritas pendudukan.

“Ini merupakan ujian yang diperbarui pada setiap tahun ajaran, di tengah eskalasi yang masih belum sempat terjadi semasih belumnya oleh otoritas pendudukan,” kata Younis kepada Al Jazeera.

“Tahun ini hadir di tengah pengetatan kebijakan pendudukan dalam merobohkan sekolah-sekolah, dan kekerasan pemukim yang bersimaharajalela yang menargetkan segala hal di desa-desa ini,” tambahnya.

Kekerasan tersebut, menurut Younis, terus membayangi kehidupan harian kalangan anak, menargetkan para siswa yang pergi ke sekolah mereka, para siswa saat berada di kelas, dan bahkan di dalam rumah.

“Kami tidak tahu apakah sekolah-sekolah ini akan bertahan hingga akhir tahun akademik ini, apalagi masih berdiri saat tahun ajaran berikutnya dimengawali,” tegasnya, sembari menekankan tekad masyarakat sekitar Palestina demi tetap bertahan terlepas dari rasa sakit dan kebiadaban Israel.

Aktivis sekaligus pengajar, Tariq Hathaleen, menegaskan bahwa serbuan kelompok pemukim yang dikawal militer telah menghancurkan batas aman lembaga pendidikan. Ketidaktentuan kapan buldoser akan datang sengaja diciptakan demi merusak mental para guru dan murid secara terus-menerus.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article