Tak Hanya Tambang, Hilirisasi Juga Menyasar ke Ekonomi Kreatif

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya ingin mengembangkan hilirisasi di sektor ekonomi kreatif. Menurutnya, potensi hilirisasi di sektor ekonomi kreatif amat tinggi.

Hal itu disampaikannya pada agenda “Ekonomi Kreatif dan Kepemudaan: Mendorong Generasi Muda sebagai Penggerak Ekonomi Kerakyatan dan Mesin Baru Pertumbuhan Nasional” di Kompleks Parlemen, Jakarta pada Senin (7/9/2027). 

“Jadi bila ada dengar tentang hilirisasi, tidak berarti hilirisasi senantiasa terkait bersama sektor pertambangan. Kami bersama asosiasi, akademisi, dan konsorsium ekonomi kreatif ingin hilirisasi sektor ekonomi kreatif ini juga berkembang di Indonesia,” kata Teuku Riefky.

Ia menerangkan, pihak pemerintah memfokuskan evaluasi kinerja sektor ekonomi kreatif pada empat indikator utama (Key Performance Indicators/KPI), yakni nilai investasi, ekspor kreatif, penyerapan tenaga kerja, dan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Dari sisi investasi, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 9,5 persen dari total investasi yang masuk ke Indonesia. Subsektor komunikasi pada saat ini mencatatkan realisasi investasi tertinggi, menggeser dominasi subsektor fashion dan kuliner.

Meski demikian, pihak pemerintah mencatat persebaran investasi masih terpusat di Pulau Jawa dan perlu diperluas ke wilayah lain.

Pada aspek ketenagakerjaan, penyerapan tenaga kerja di sektor ini mencapai 27,4 juta orang, melampaui target awal sebesar 25,6 juta orang. Dari total tersebut, sesejumlah 63 persen merupakan kelompok Generasi Z dan milenial, sementara 58 persen di antaranya merupakan wanita.

“Jadi 27,4 juta pekerja ekonomi kreatif, itu 63 persen Gen Z dan milenial, dan 58 persen merupakan wanita. Ini sektor yang amat inklusif dan berkelanjutan,” kata Teuku Riefky.

Menurunnya, minat tinggi Generasi Z dan milenial di sektor ini didorong oleh fleksibilitas waktu kerja, kesesuaian bersama minat (passion), serta potensi pendapatan di atas Upah Minimum Regional (UMR).

Sementara dari sisi dampak ekonomi makro, kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB nasional pada saat ini telah mencapai 7,38 persen. Teuku Riefky optimistis angka tersebut terus meningkat seiring target pertumbuhan ekonomi nasional.

“Hari ini sektor ekonomi kreatif telah 7,38 persen. Insyaallah bersama dukungan dari para akademisi dan tersangka ekonomi kreatif, semasih belum 2029 dapat melampaui angka 8 persen kontribusinya terhadap PDB nasional,” tuturnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article