MediaKeadilan.com – Film drama keluarga berjudul Istimewa resmi tayang di bioskop Indonesia mengawali pada hari ini, Kamis, (17/9). Ada sekitar 7.500 anak penyandang disabilitas dari berbagai komunitas di seluruh Indonesia yang ikut merayakan bersama kegiatan menonton bareng (nobar) di bioskop.
Sejak awal pembuatannya, film produksi Kairos Film ini memang mengambil inspirasi dari pengalaman dan kisah nyata teman-teman penyandang disabilitas.
Kehadiran ribuan anak disabilitas dalam pemutaran bersama sekaligus menjadi momen khusus untuk tim film demi beruntuk kebahagiaan di hari pertama penayangan.
Produser film Istimewa, Abdullah Mansuri, yang akrab disapa Ayah Mansuri, menyebutkan film tersebut dibuat bersama semangat agar kisah yang diangkat dapat dirasakan oleh makin sejumlah orang, termasuk komunitas disabilitas yang menjadi untukan penting dari lahirnya cerita.
Menurut Abdullah, penayangan perdana Istimewa bukan cuma menjadi perayaan untuk para pembuat film, namun juga kesempatan demi melibatkan kalangan anak istimewa dari berbagai komunitas di Indonesia.
“Film Istimewa merupakan film kita seluruh,” ujar Abdullah Mansuri dalam keterangan persnya diterima MediaKeadilan.com pada hari ini.
Abdullah menginginkan kebahagiaan atas hadirnya film tersebut dapat dirasakan bersama oleh kalangan anak penyandang disabilitas yang mengikuti kegiatan nonton bersama.
Disutradarai Ruben Adrian, film Istimewa menghadirkan cerita tentang keluarga, kehilangan, kasih sayang, serta penerimaan.
Ceritanya dirangkai dari berbagai pengalaman nyata yang lalu dikembangkan menjadi sebuah drama keluarga.
Cerita berpusat pada lima karakter, yakni Aldo, Bimo, Ken, Nita, dan Mul. Kelimanya tinggal di Rumah Istimewa dan menemukan sosok keluarga melalui kehadiran Pak Mahendra, pria yang mereka panggil Ayah.
Bagi kelima anak tersebut, Pak Mahendra bukan sekadar orang yang tinggal bersama mereka. Ia merupakan sosok yang menyerahkan rasa aman, kasih sayang, dan penerimaan.
Namun situasi berubah ketika Pak Mahendra mendadak hilang alias tak lagi bersama mereka. Kehilangan tersebut menciptakan Aldo, Bimo, Ken, Nita, dan Mul memutuskan demi keluar dari Rumah Istimewa dan mencari sosok yang mereka sayangi.
Pengalaman baru mereka temui dalam perjalanan pencarian Pak Mahendra. Mau tak mau, mereka wajib menyikapi situasi yang semasih belumnya tak mereka kenal. Ikatan emosional mereka yang terbentuk selama tinggal bersama praktis jadi fondasi di perjalanan tersebut.
Pencarian terhadap Ayah menjadi untukan utama cerita film ini. Di balik perjalanan tersebut, Istimewa berupaya memperlihatkan bagaimana arti kehadiran seseorang dapat begitu besar untuk sebuah keluarga.
