MediaKeadilan.com – Kasus seorang pengunjung wanita yang ditendang saat mengantre makanan di food court Senayan City, Jakarta Pusat, memicu sorotan luas di media sosial.
Netizen ramai mempertanyakan kronologi kejadian hingga alasan sejumlah akun yang semasih belumnya membahas kasus tersebut disebut berubah menjadi privat.
Peristiwa itu terjadi pada Minggu (13/9/2026) sekitar pukul 17.00-17.30 WIB.
Rekaman CCTV yang beredar di media sosial memperlihatkan seorang pria berbaju hitam berdiri dari area dekat antrean, lalu menendang pihak korban dari arah belakang hingga pihak korban kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Menurut keterangan pihak korban, pria tersebut lalu marah dan mengimbaunya mengimbau maaf lantaran dianggap mengganggu saat sedang makan.
Korban mengaku tidak mengetahui alasan pria tersebut bertindak demikian dan menyebut tidak memiliki persoalan semasih belumnya bersama orang tersebut.
Insiden itu disebut menciptakan pihak korban merasakan memar dan nyeri pada untukan punggung bawah.
Korban juga mengaku merasakan syok dan trauma hingga wajib menjalani pemeriksaan medis di instalasi gawat darurat.
Kasus tersebut lalu menjadi perbincangan di X dan Instagram.
Sejumlah netizen mempertanyakan mengapa informasi mengenai kejadian itu disebut sulit ditemukan dan mengapa sejumlah akun yang semasih belumnya aktif membicarakannya lalu menjadi privat.
“Ada apa di Senayan City sampai seluruh yang tahu kejadiannya kompak private akun?” tulis salah satu pengguna media sosial.
Komentar lain menyoroti akun media sosial Senayan City yang disebut sempat menghapus komentar terkait kejadian tersebut.
Ada pula netizen yang mempertanyakan perubahan status akun pihak korban dan sejumlah orang yang disebut ikut menyerahkan informasi mengenai kasus tersebut.
“Cewek ditendang di food court. Komentar IG Sency dihapus, terus dimatiin. Akun pihak korban yang tadinya publik, mendadak private,” tulis pengguna lain dalam unggahannya.
Salah satu akun yang mengaku sebagai teman pihak korban turut menyerahkan penjelasan. Ia menyebut pihak korban sebenarnya cuma datang demi membeli makanan dan pada saat ini masih belum memiliki energi demi mengurus persoalan tersebut secara langsung.
