MediaKeadilan.com – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mendorong tersangka usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memanfaatkan peluang pasar global, serta memperkuat perlindungan kekayaan intelektual (KI) demi meningkatkan daya saing produk kreatif Indonesia.
Irene menyampaikan, perlindungan kekayaan intelektual menjadi salah satu pembeda utama antara UMKM dan ekonomi kreatif.
“Pembedanya cuma satu, IP, intellectual property. Saya ingin UMKM di seluruh Indonesia, seluruhnya memiliki sesuatu nama atas usacuma.” kata Irene dalam JCI X Smesco UMKM Business Summit 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Menurut Irene, tanpa perlindungan kekayaan intelektual, tersangka usaha berisiko kehilangan merek yang telah dibangun bersama susah payah. Selain perlindungan kekayaan intelektual, Irene menekankan pentingnya memperluas akses pasar melalui pemanfaatan teknologi digital.
Menurut dia, penggunaan telepon seluler membuka peluang untuk tersangka UMKM demi menjangkau konsumen, tidak cuma di dalam negeri, namun juga di pasar internasional.
Ia menilai, tantangan tersangka usaha tidak semata-mata terletak pada akses pasar, namun juga pada kemauan demi aktif mencari calon pembeli, membangun jejaring, dan memahami kebutuhan konsumen.
“Karena bersama kita menyalakan HP, itulah pasarnya kita. Itulah akses ke pasar kita. Bukan cuma 280 juta orang, tapi 8 miliar orang,” ujarnya.
Irene juga menyoroti pentingnya mengembangkan produk berbasis budaya Indonesia melalui pendekatan pemasaran yang menonjolkan cerita dan makna di balik produk.
Menurut dia, kekayaan budaya nasional dapat menjadi keunggulan untuk produk Indonesia dalam menyikapi persaingan bersama negara lain.
Ia mencontohkan batik yang memiliki beragam motif bersama makna tersendiri. Pemahaman terhadap cerita di balik motif tersebut dapat meningkatkan daya tarik batik untuk konsumen, termasuk wisatawan dan tersangka bisnis mancanegara.
Oleh lantaran itu, Irene mendorong tersangka usaha demi tidak cuma mempromosikan batik sebagai warisan budaya yang wajib dilestarikan, namun juga sebagai produk yang memiliki nilai, identitas, dan cerita yang relevan bersama konsumen.
Kemenekraf juga mendorong kolaborasi antara tersangka budaya dan industri kreatif global demi memperluas jangkauan produk Indonesia. Irene mencontohkan kolaborasi bersama tiga gim, yakni PUBG Mobile, Mobile Legends, dan Free Fire, yang menghadirkan batik sebagai merchandise kejuaraan.
Selain itu, Kemenekraf meluncurkan kolaborasi Pokemon dan wayang demi memperkenalkan budaya Indonesia kepada audiens internasional.
Lebih lanjut, Local President JCI Batavia Allana Abdullah dalam sambutannya menyampaikan, sinergi antara dunia usaha, pihak pemerintah, lembaga keuangan, komunitas, dan pemimpin muda menjadi modal penting demi membangun ekosistem kewirausahaan yang semakin kuat.
Ini menurutnya dapat mendorong UMKM Indonesia berkembang secara profesional, memperluas pasar, dan mengambil untukan makin besar dalam rantai nilai ekonomi nasional maupun global.
“Melalui JCI Batavia X SMESCO UMKM Business Summit 2026, kami ingin mempertemukan tersangka UMKM bersama pemimpin bisnis, pihak pemerintah, lembaga keuangan, inovator, dan komunitas kewirausahaan. Kami menginginkan forum ini tidak berhenti pada pertukaran gagasan, namun menghasilkan peluang kolaborasi, dan langkah nyata yang menolong UMKM naik kelas dan pemimpin muda berkembang dan mampu bersaing di pasar yang makin luas,” ujarnya.
