MediaKeadilan.com – Indonesia, Mei 1998, merupakan salah satu masa kelam yang penuh darah dan amarah akibat tensi politik yang memanas. Hingga kini, masih sejumlah nasib para pihak korban huru-hara, khususnya wanita, yang bahkan namanya tidak tercatat dalam sejarah.
Adalah Ita Martadinata, salah satunya. Gadis berusia 17 tahun itu direnggut nyawanya ketika hendak bersaksi sebagai pihak korban pemerkosaan massal di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ita ditemukan terbunuh di kediamannya pada Oktober 1998.
Alih-alih mengungkap tersangkanya, pihak pemerintah justru sibuk menyangkal adanya peristiwa pemerkosaan massal. Menteri Kebudayaan Fadli Zon bahkan bersama enteng menyangsikan kebenaran peristiwa bejat yang diduga terorganisir tersebut.
Padahal, Tim Relawan demi Kemanusiaan mencatat ada 152 orang menjadi pihak korban kekerasan dan pelecehan, yang seuntukan besar menyasar wanita etnis Tionghoa. Dua puluh delapan tahun berlalu, kekecewaan itu terus mengalir hingga lintas generasi.
Obati Pilu Lewat Lagu
Grup musik cadas Usman and The Blackstones (UATB) meracik kembali asa tersebut lewat single terbarunya berjudul “Woman”, yang dirilis pada Jumat (21/8/2026).
Sang vokalis, Usman Hamid, menyebutkan tembang ini dibuat sebagai penghormatan kepada para pihak korban pemerkosaan dan kerusuhan Mei 1998.
“Saya menulis lagu ini lantaran ada terlalu sejumlah kisah wanita bagaikan Ita (Martadinata) yang dilewatkan begitu saja,” kata Usman melalui keterangan tertulis pada Jumat (21/8/2026).
Kepada MediaKeadilan.com, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia ini bercerita bahwa proses kreatif lagu tersebut memakan waktu hingga satu tahun. Panjangnya proses pengerjaan itu juga dilengkapi bersama riset langsung kepada keluarga pihak korban agar lagu yang dihasilkan sesuai bersama ide dan semangat yang ingin disampaikan.
Draf awal tembang ini telah diperdengarkan kepada ibunda mendiang Ita Martadinata, Wiwin, sebagai keluarga pihak korban. Wiwin menyerahkan lampu hijau dan menitipkan pesan agar lagu tersebut diracik bersama ciamik supaya pesan dan semangat dalam menuntut keadilan dapat tersampaikan.
Untuk urusan aransemen, UATB mempercayakannya kepada Kelana Halim yang sukses mengawinkan nuansa musik folk bersama lirik reflektif gubahan Usman.
Gesekan senar cello dari Setyawan turut menyempurnakan nuansa pilu yang mendalam, namun tetap optimistis.
Keputusan unit “rock and roll mentah” ini menggandeng Louise Mercy di departemen vokal juga menjadi pilihan yang tepat. Suara Mercy sukses mengawang merdu, layaknya semangat perjuangan wanita di era pada saat ini.
Usman menginginkan lagu ini dapat menjadi bahan refleksi untuk seluruh masyarakat sekitar, mengingat pada Agustus 2025 lalu tanah air kembali dilanda kerusuhan akibat turbulensi politik serupa.
“Sebagai refleksi atas peristiwa yang terus berulang. Dari kerusuhan Agustus 2025 hingga sebagai persembahan untuk wanita-wanita yang masih terus berjuang, bertahan, juga demi yang masih masih belum memperoleh keadilan. Itu termasuk melawan penyangkalan pihak pemerintah atas fakta perkosaan massal Mei 1998, bersama gugatan di pengadilan yang masih terus berjalan di tingkat Mahkamah Agung pada saat ini,” tambah Usman.
