9 Warga Singapura Korban Banjir Bandang Nepal Hilang, Keluarga Menangis Sulit Update Informasi

admin
By admin
4 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Sembilan masyarakat sekitar negara Singapura menghilang dalam bencana banjir bandang yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet. Kerabat para pihak korban mendesak kejelasan proses evakuasi lantaran minimnya kabar resmi dari otoritas terkait.

Kenisha Rawla (15) dan Parnika Rawla (20) mengaku kesulitan memperoleh perkembangan kondisi kedua orang tua mereka, Shubakshi Rawla (49) dan Sumit Rawla (53). Komunikasi terakhir keluarga terjadi pada Rabu pagi saat orang tua mereka berada di kawasan Rasuwagadhi, Nepal.

Pasangan tersebut mendarat di Kathmandu sejak 23 Agustus demi menjalani ziarah Kailash Yatra dan menginap di Hotel Kailash, Timure. Namun hingga kini, tidak ada kabar tentu mengenai posisi maupun status keselamatan pasangan tersebut.

Parnika menyampaikan kecemasannya lantaran tidak mendapat ketentuan dari pihak mana pun terkait keberadaan orang tuanya.

“Tidak ada yang memberi tahu kami apa pun. Kami tidak tahu apa yang sedang terjadi. Kami tidak tahu apakah mereka telah diselamatkan, di mana mereka berada, apakah hotel tempat mereka menginap telah diperiksa,” ujarnya, dikutip dari CNA, Jumat (28/8/2026).

Upaya keluarga mencari informasi terus membentur jalan buntu lantaran nomor telepon kontak darurat tidak dapat dihubungi.

“Kami terus bertanya kepada orang-orang, dan orang-orang terus memberi kami nomor telepon, dan nomor-nomor telepon itu tidak dapat dihubungi. Kami tidak punya informasi. Kami sedih dan kami bingung,” tambah Parnika.

Dipti Bhatnagar, adik dari Shubakshi, menyebutkan bahwa kakak dan iparnya amat bersemangat semasih belum berangkat menuju wilayah Tibet. Shubakshi dikenal sebagai sosok ahli gizi yang ramah dan senantiasa menolong sejumlah orang dalam kesehariannya.

“Kakak saya merupakan salah satu orang terbaik yang saya kenal di dunia. Dia orang yang amat suka menolong. Dia seorang ahli gizi. Dia benar-benar senantiasa berusaha keras demi menolong seluruh orang, dan saya tahu bahwa seluruh orang yang dia kenal dan bantu sedang berdoa deminya. Kayak ipar saya merupakan orang yang amat kerja keras. Dia benar-benar percaya pada pekerjaan,” ungkap Dipti sambil meneteskan air mata.

Dipti memohon agar pihak pemerintah memobilisasi makin sejumlah tim penyelamat dan memanfaatkan teknologi pencarian lokasi terkini.

“Kami benar-benar, amat membutuhkan pihak pemerintah demi meluncurkan orang-orang demi upaya penyelamatan. Dapatkan lokasi melalui korporasi bagaikan Apple dan siapa saja yang dapat memuntukkan lokasi seluruh wisatawan, berakibat makin mudah untuk tim penyelamat. Ini cuma permohonan yang rendah hati,” tuturnya.

“Tolong, tolong bantu kami.”

Bagaimanakah Kondisi Lapangan dan Dampak Kerusakan Bencana?

Bencana alam ini dipicu oleh runtuhnya dinding es, lumpur, dan batuan ke aliran sungai pegunungan pada Rabu pagi. Dampaknya merusak pemukiman perbatasan dan menewaskan sedikitnya 469 jiwa, sementara otoritas memperingatkan risiko banjir susulan.

Pemerintah Nepal telah merilis daftar 668 wisatawan hilang, termasuk sembilan nama masyarakat sekitar negara Singapora. Selain pasangan Rawla, masyarakat sekitar Singapora lain yang masih belum ditemukan yakni Estee Loeh, Ghosh Aditi, Ng Kit Kuen, Rajesvaran Ayyavoo, Rengarajan Prabu, Shalinny Deavy Elan Sozan, serta Subramaniam Diraviam.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article