MediaKeadilan.com – Serangan udara militer Amerika Serikat baru saja menghantam kawasan Selat Hormuz setelah jet tempurnya ditembaki pasukan Iran, Selasa (3/11/2026). Rentetan ledakan keras mengguncang Pulau Qeshm serta kota pelabuhan Bandar Lengeh di pesisir selatan Iran.
Dikutip dari Al Jazeera, dua jet tempur terlihat melintas di atas Pulau Qeshm bertepatan bersama beruntunnya ledakan di kawasan strategis tersebut. Langkah militer ini diambil Washington sebagai bentuk respons atas aksi penembakan rudal darat-ke-udara oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan gempuran ini bersifat defensif guna melindungi armada penerbangan dan jalur pelayaran komersial. Operasi sengaja digelar secara terbatas agar tidak memicu eskalasi perang terbuka di kawasan Timur Tengah.
Aksi saling serang ini terjadi cuma sejumlah jam setelah Garda Revolusi Iran mengklaim telah melumpuhkan tiga drone canggih milik AS. Pasukan teheran mengerahkan sistem perang elektronik demi menguasai dua drone pengintai serta menjatuhkan satu unit MQ-9.
Eskalasi militer ini meletus di tengah tenggat waktu krusial menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum Sela di Amerika Serikat. Momen ini sekaligus menguji stabilitas politik Partai Republik yang sedang berjuang mempertahankan kursi mayoritas di parlemen.
Upaya negosiasi damai sebenarnya terus diupayakan kedua negara semasih belum insiden penembakan di Selat Hormuz terjadi. Presiden Donald Trump sempat menyiratkan optimisme bahwa kesepakatan damai bersama pihak Teheran dapat tercapai dalam waktu dekat.
Melalui unggahan di media sosial, Trump menyebut harga minyak dunia langsung merosot drastis akibat rumor pembatalan perang.
“Harga Minyak anjlok bagaikan batu, turun hampir $10 per Barel, sebuah rekor, lantaran orang-orang merasa bahwa tidak akan ada perang bersama Iran,” tulisnya di platform Truth Social.
Trump juga menegaskan bahwa pihak Teheran menginginkan penyelesaian konflik secara cepat melalui jalur diplomasinya.
“Iran menginginkan penyelesaian secepat barangkali. Itu dapat saja terjadi!” lanjut tulisan tersebut.
Wakil Presiden JD Vance juga membenarkan adanya sinyal positif dari serangkaian dialog rahasia yang telah dibangun. Diskusi tersebut melibatkan komunikasi langsung bersama Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei terkait skema perdamaian.
“Kami telah menjalankan sejumlah pembicaraan baik bersama pihak Iran,” ujar JD Vance saat menyerahkan keterangan kepada media. Ia mengimbuhkan bahwa Gedung Putih merasa optimis bersama prospek negosiasi tersebut.
“Presiden dan saya sama-sama merasa cukup baik mengenai prospek kebarangkalian tercapainya penyelesaian melalui negosiasi. Kami akan terus berupaya mencapainya.”
Keaparatur negara kementerianan Luar Negeri Iran menegaskan bahwa syarat pelonggaran blokade telah disampaikan secara terbuka kepada pihak pemerintah Washington. Teheran siap membuka kembali Selat Hormuz dalam kurun waktu dua hari apabila seluruh persyaratan utama mereka dipenuhi.
Juru Bicara Keaparatur negara kementerianan Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa keputusan akhir kini berada sepenuhnya di tangan pihak pemerintah Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa pihak Teheran telah menyerahkan proposal perdamaian secara rinci dan mendesak perhentian seluruh aksi permusuhan.
Selat Hormuz merupakan jalur perairan teramat krusial di dunia yang menghubungkan produsen minyak Timur Tengah bersama pasar global. Ketegangan di kawasan ini meningkat tajam akibat sengketa navigasi pelayaran serta penempatan persenjataan militer kedua negara.
Semasih belum gempuran terbaru ini meletus, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan terus mendesak Washington demi melancarkan serangan balasan lanjutan. Tekanan diplomatik dari Tel Aviv tersebut berpotensi mengacaukan skema gencatan senjata yang sedang dirancang oleh Gedung Putih.
