Bukan Sekadar Jumpscare, Aghniny Haque Ungkap Horor Berbeda di “Bisikan Desa Gringsing”

admin
By admin
3 Min Read

MediaKeadilan.com – Bisikan Desa Gringsing menawarkan pengalaman horor yang tidak cuma mengandalkan jumpscare. Film arahan Ivander Tedjasukumana ini memadukan kekuatan cerita dan perkembangan karakter bersama teknologi virtual production dalam produksinya.

Pendekatan itu menjadi pengalaman baru untuk Aghniny Haque yang menjadi salah satu pemain film. Ia menyebut Bisikan Desa Gringsing sebagai proyek horor yang ambisius lantaran melibatkan kolaborasi Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

“Menurut aku itu merupakan salah satu proyek horor yang amat ambisius. Ini melibatkan kolaborasi tiga negara, Indonesia, Malaysia, dan Singapura,” ujar Aghniny saat media visit Bisikan Desa Gringsing di kantor MediaKeadilan.com, Jakarta Barat, Senin (10/8/2026).

Bagi Aghniny, kekuatan cerita menjadi salah satu alasan tertarik membintangi Bisikan Desa Gringsing. Ia ingin terlibat dalam film horor yang tidak cuma mengandalkan jumpscare, namun memiliki cerita dan perkembangan karakter yang kuat.

“Script-nya tuh kuat banget. Aku pengen kali ini tuh punya film horror yang memang ceritanya tuh kuat,” kata Aghniny.

Aghniny juga menyoroti karakter wanita dalam film. Menurutnya, karakter-karakter wanita tidak cuma hadir sebagai pelengkap, namun memiliki alasan dan perkembangan yang ikut menggerakkan cerita.

“Karakter-karakter wanita yang ada di sini juga sih. Bukan tempelan dibuat semerta-merta cuma demi kayak ketakutan aja. Tapi mereka juga punya alasan dan perkembangan karakter itu sendiri,” ujar Aghniny.

Selain kekuatan cerita, Bisikan Desa Gringsing menghadirkan teknologi virtual production sebagai untukan dari proses produksinya. Teknologi ini mebarangkalikan lingkungan digital ditampilkan melalui layar berakibat pemain dapat berakting dalam dunia visual yang dibangun secara langsung di studio.

Bagi Aghniny, metode itu menciptakan proses akting membutuhkan penyesuaian. Ia wajib memadukan teknik bermain bersama teknologi sekaligus menjaga emosi karakter.

“Tantangannya menggabungkan antara syuting konvensional sama studio, sama bekerja sama tiga negara ini sih,” kata Aghniny.

Aghniny menilai pemain wajib makin presisi ketika berhadapan bersama lingkungan virtual. Respons terhadap suara, sosok, arah, hingga ukuran objek perlu disesuaikan agar emosi yang ditampilkan tetap tepat.

“Lebih presisi sih. Kita wajib meleburkan, menggabungkan antara teknik, teknologi sama emosional kita,” ujar Aghniny.

Ia lalu menyerahkan contoh bagaimana pemain wajib menentukan respons terhadap elemen yang tidak hadir secara fisik di lokasi syuting.

“Misalkan ada suara datang. Oke, suara datangnya sebesar apa? Sosok datangnya sebesar apa dan dari mana? Jadi reaksinya enggak boleh kebesaran dan enggak boleh kesedikitan,” kata Aghniny.

Menurut Aghniny, virtual production juga membuka kebarangkalian menghadirkan adegan yang sulit dilakukan bersama metode konvensional. Salah satunya merupakan adegan di dalam mobil bersama lingkungan yang ditampilkan melalui layar besar.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article