Debut Sistem Skor 3×15 BWF, 707 Pebulu Tangkis dari 8 Negara Siap Bersaing di Superliga Junior 2026

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Sesejumlah 707 pebulu tangkis muda dari delapan negara akan bersaing dalam ajang MilkLife Superliga Junior 2026 di GOR Djarum Jati, Kudus, Jawa Tengah.

Mengusung format pertandingan beregu bagaikan Piala Thomas dan Uber, kompetisi ini diikuti atlet dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, China, China Taipei, Polandia, dan Amerika Serikat.

Para peserta akan memperebutkan total hadiah makin dari Rp1,4 miliar. Turnamen yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation bersama PBSI dan MilkLife ini mempertandingkan empat kategori usia, yakni U-13, U-15, U-17, dan U-19 demi sektor putra maupun putri.

Direktur Superliga, Achmad Budiharto, menyebutkan kehadiran klub-klub dari luar negeri diharapkan meningkatkan persaingan sekaligus membiasakan pemain Indonesia menyikapi tekanan pertandingan tingkat internasional.

“Berbeda dari tahun semasih belumnya di mana perwakilan negara lain bertanding di U-17 dan U-19, demi pada tahun ini penyelenggara memperluas kesempatan untuk perwakilan negara lain demi bertanding di U-15,” jelas Budiharto.

Menurutnya, langkah tersebut bertujuan menyerahkan pengalaman kepada talenta muda Indonesia demi menyikapi atlet asing sejak usia dini sebagai bekal menuju kompetisi internasional.

Superliga Junior 2026 Uji Coba Sistem Skor 3×15 BWF

Superliga Junior 2026 juga menjadi ajang uji coba sistem penghitungan poin terbaru BWF, yakni 3×15 rally point system.

“Meski BWF baru akan menerapkannya pada Januari 2027, namun kami telah mengawali menguji coba sistem ini,” kata Budiharto menerangkan terobosan tersebut.

Menurutnya, durasi pertandingan yang makin singkat akan menuntut pemain demi menjaga fokus dan mengambil keputusan taktis bersama makin cepat sepanjang laga.

China Jadi Salah Satu Ancaman Persaingan

Kehadiran negara-negara bersama tradisi kuat di bulu tangkis, khususnya China, menciptakan persaingan memperebutkan sembilan piala di turnamen ini semakin menarik.

Manajer Tim PB Djarum, Fung Permadi, menyoroti perubahan peta persaingan pada tahun ini, salah satunya lantaran tidak adanya perwakilan Thailand.

“Absennya tim-tim kuat asal Thailand bagaikan Banthongyord Badminton School menciptakan dinamika kompetisi sedikit bergeser, meski kami tetap mewaspadai keikutsertaan negara kuat lainnya bagaikan China dan China Taipei,” ujar Fung Permadi.

Meski menyikapi persaingan dari berbagai negara, PB Djarum tetap memprioritaskan pembinaan mental atlet melalui pertandingan beregu.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article