Dunia Gemetar, Harga Minyak Terus Mendidih saat Perdamaian AS – Iran Makin Tak Jelas

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Lonjakan harga minyak mentah terjadi akibat penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal perdamaian dari Iran. Kebijakan tersebut langsung mendorong harga minyak Brent melampaui angka 105 dolar AS per barel.

Ketegangan di Selat Hormuz dan masih belum ditemukannya kesepakatan damai menjadi pemantik utama gejolak pasar global kali ini. Pasar merespons cepat ketidaktentuan diplomasi antara Washington dan Teheran pada awal pekan ini.

Gagalnya kompromi di PBB membuka mata tersangka pasar bahwa gangguan rantai pasok energi masih jauh dari kata usai. Kondisi tersebut memaksa harga minyak WTI melambung hingga mendekati angka 93 dolar AS per barel.

Di tengah situasi yang memanas, perdagangan acuan Brent mencatat kenaikan 1,32 dolar AS atau setara 1,27 persen menuju level 105,64 dolar AS per barel.

Sementara itu, jenis West Texas Intermediate terangkat 70 sen atau 0,76 persen berakibat berada di posisi 93,11 dolar AS per barel.

Tawaran damai sebenarnya telah disodorkan utusan Teheran lewat perantara diplomatik Qatar saat Sidang Umum PBB berlangsung. Namun, Donald Trump secara tegas menepis draf kesepakatan tersebut pada akhir pekan lalu.

Meski menepis, Trump memberi sinyal bahwa utusan diplomasi Amerika Serikat bakal kembali menggelar pembicaraan lanjutan pekan ini.

Kekhawatiran pasar kian memuncak meny meny menyusul serangkaian insiden militer yang terus terjadi di sekitar kawasan Teluk.

“Risiko geopolitik tetap tinggi, lantaran Houthi dan Iran terus melancarkan serangan terhadap Arab Saudi, menciptakan arus pasokan regional rentan,” kata analis ANZ dalam sebuah catatan.

Militer pimpinan Arab Saudi mengaku sukses mencegat serangan dua rudal balistik serta dua drone miliknya kelompok Houthi.

Dinamika pekan lalu memperlihatkan tren unik di mana acuan Brent naik tipis 0,4 persen, namun WTI justru melemah 7,9 persen.

Penyebab penurunan acuan domestik AS merupakan wacana larangan ekspor bahan bakar diesel demi mengendalikan inflasi dalam negeri.

“Dengan harga diesel AS yang mencapai rekor maka meningkatkan risiko inflasi dan kembali memicu perdebatan mengenai kebarangkalian pembatasan ekspor,” sebut analis ANZ.

Analis menyoroti bahwa kebijakan embargo ekspor AS justru akan menciptakan kelangkaan pasokan makin parah di wilayah Eropa.

Sinyal pengetatan pasokan global langsung memicu lonjakan harga di kawasan Benua Biru secara drastis.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article