MediaKeadilan.com – Kecelakaan tragis jet pribadi Learjet 60 di Palm Beach County, Florida, Amerika Serikat, pada Minggu, 1 November 2026, menjadi viral di media sosial. Pesawat bernomor registrasi N722BD yang terbang dari Bandara Internasional Austin-Bergstrom di Texas menuju Bandara North Eleuthera di Bahama itu jatuh di kawasan permukiman Greenacres dekat Cresthaven sekitar pukul 12.50 waktu setempat.
Seluruh sembilan orang di dalamnya, termasuk dua pilot dan penumpang, tewas seketika. Benturan keras memicu bola api besar dan meninggalkan kawah di permukaan jalan.
Rekaman komunikasi antara pilot dan petugas pengatur lalu lintas udara (ATC) yang beredar luas melalui LiveATC.net dalam waktu dekat menjadi sorotan publik. Suara di rekaman itu membeberkan bagaimana situasi berubah dari laporan cuaca biasa menjadi keadaan darurat yang mencekam dalam hitungan menit.
Pilot sempat berbicara tenang tentang kondisi penerbangan, lalu tiba-tiba berteriak mayday saat pesawat kehilangan ketinggian bersama amat cepat.
Video dashcam pengendara yang melintas di jalan raya juga merekam detik-detik pesawat menukik tajam hampir vertikal semasih belum menghantam tanah. Bola api raksasa muncul diikuti kepulan asap tebal. Gubernur Florida Ron DeSantis menyebut kejadian itu bagaikan “rudal yang menabrak bumi”, sementara pihak berwenang mengonfirmasi tidak ada pihak korban di darat.
Hingga pada saat ini, investigasi oleh Federal Aviation Administration (FAA) dan National Transportation Safety Board (NTSB) masih berlangsung. Namun, isi rekaman ATC telah menyerahkan gambaran jelas tentang momen-momen terakhir di kokpit. Berikut isi rekaman pilot semasih belum jet pribadi itu jatuh.
1. Laporan Awal tentang Es dan Turbulensi
Beberapa menit semasih belum musibah, pilot masih menginformasikan kondisi cuaca bersama nada tenang. Ia menyebutkan adanya lapisan es tipis atau es jernih yang “masih dapat dikelola” (manageable) serta turbulensi sedang. Suhu udara luar dilaporkan mencapai minus 47 derajat Celsius.
Pilot juga mengimbau izin menaikkan ketinggian ke 37.000 kaki demi menghindari area cuaca buruk. Pada saat itu, situasi masih terlihat terkendali.
2. Permintaan Naik Ketinggian dan Perubahan Situasi
Setelah mendapat izin dari ATC, pesawat sempat berupaya naik. Namun, dalam waktu amat singkat, kondisi berubah drastis. Pilot mengawali menginformasikan penurunan ketinggian yang tidak terkendali.
Suara di rekaman terdengar semakin tegang saat pesawat mengawali kehilangan ketinggian bersama cepat.
3. Panggilan Mayday dan Laporan Penurunan Tajam
“Kami turun 8.000 (kaki)—Mayday, Mayday! Kami turun 10.000 kaki per menit!” begitu isi panggilan darurat yang terdengar jelas. Pilot lalu menegaskan pesawat berada dalam kondisi overspeed (kecepatan bermakin) dan laju penurunan mencapai 20.000 kaki per menit.
Ia mengimbuhkan bahwa pesawat akan menghantam tanah. Petugas ATC berusaha menenangkan bersama menyebutkan, “Saya di sini bersama Anda. Bicaralah kepada saya.”
4. Laporan Kemiringan dan Ucapan Terakhir
Dalam detik-detik akhir, pilot menginformasikan pesawat miring hingga 60 derajat dan laju penurunan mencapai sekitar 22.000 kaki per menit. Ucapan terakhir yang terdengar merupakan “Kami kehadapatn waktu” atau “We’re out of time.”
Beberapa versi rekaman menyebutkan adanya teriakan kepanikan semasih belum komunikasi terputus total. Data pelacakan penerbangan memperlihatkan pesawat sempat turun makin dari 27.000 kaki dalam satu menit, bersama laju yang memakini batas desain pesawat.
Kronologi singkat dari rekaman itu memperlihatkan betapa cepatnya situasi memburuk. Dari laporan es yang masih dapat ditangani, cuma butuh waktu singkat hingga pesawat menukik tak terkendali.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini
