MediaKeadilan.com – Konsep kehidupan bermasyarakat sekitar yang berdampingan bersama alam merupakan dambaan siapa pun. Lingkungan tanpa kerusakan, nihil konflik sosial, dan justru berbuah berkah ekonomi.
Warga Dusun Tangsi Jaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, sukses mewujudkan dambaan tersebut melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) mandiri mereka.
Bersama Trend Asia, MediaKeadilan.com berkesempatan menilik makin dekat bagaimana praktik ekonomi berkelanjutan ini menyokong roda kehidupan masyarakat sekitar dalam kunjungan pada 2 hingga 5 November 2026.
Mendengar tutur cerita mereka, masyarakat sekitar Tangsi Jaya seakan menegaskan kedaulatannya: menjaga alam tetap lestari sekaligus menjadikannya sumber penghidupan utama.
Cikal Bakal PLTMh
Cikal bakal PLTMh itu bermula pada dekade 90-an, ketika seorang masyarakat sekitar Kecamatan Gunung Halu berinisiatif menciptakan sebuah pembangkit listrik memakai kincir air berbahan dasar kayu bersama modal aliran air Sungai Ciputri dan pengetahuan seadanya.
“Orang sini (Dusun Tangsi Jaya) belajar sama orang itu. Enggak ada sih (pelatihan dari pihak pemerintah),” ungkap Penanggung Jawab PLTMh Gunung Halu, Toto Sutanto pada Senin, (2/11/2026).
Terobosan itu seakan menjadi jawaban atas situasi di tengah minimnya pasokan listrik dari PLN yang tak mampu mencukupi kebutuhan seuntukan rumah di dusun.
Namun, Toto bercerita saat itu kincir air tersebut masih masih belum menutupi pasokan listrik yang dibutuhkan walaupun merupakan sebuah langkah terobosan.
“Tahun 90 masyarakat sekitar di sini pakai kincir tradisional yang pakai kayu. Cuma kapasitasnya kecil. Paling sejumlahnya cuma 200 sampai 250 watt,” tuturnya.
Atas kreatifitasnya, masyarakat sekitar seakan ketiban pulung ketika memperoleh hibah sebuah PLTMh berkekuatan 18 kW pada 2007 guna memasok kebutuhan listrik masyarakat sekitar yang saat itu menghuni enam puluh rumah.
Alhasil, mereka makin memilih demi memakai PLTMh pribadi ketimbang berlangganan pasokan PLN yang harganya dipatok tak sesuai bersama kantong masyarakat sekitar.
“2007 PLN juga telah masuk. Cuma waktu itu siapa yang mau masang PLN itu wajib DP dulu. Bayangin tahun 2007 itu ekonomi masyarakat sekitar masih belum bagaikan ini. Waktu itu (harga) Rp1,2 juta,” ungkap Toto.
Meski demikian, ia menilai kualitas pasokan listrik PLN masih kalah ketimbang pasokan PLTMh milik masyarakat sekitar. Dia berkaca pada pengalaman 10 rumah yang saat itu memutuskan demi berlangganan korporasi listrik pelat merah tersebut.
Bahkan, pada 2024 masyarakat sekitar Desa Tangsi Jaya makin menunjukan taringnya saat Dinas ESDM menyerahkan kepercayaan melalui pemberian hibah sebuah PLTMh berskala 32 kW.
