ITS Uji Coba Traktor Perahu Listrik, Jawab Tantangan Bertani di Lahan Gambut

admin
By admin
3 Min Read

MediaKeadilan.com – Lahan gambut menjadi tantangan tersendiri untuk sektor pertanian di Indonesia. Struktur tanah yang lunak dan jenuh air menciptakan traktor konvensional kerap sulit beroperasi secara optimal, bahkan berisiko terjebak atau tenggelam.

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan traktor perahu listrik yang dirancang khusus demi digunakan di lahan gambut dan lahan basah.

Rektor ITS, Bambang Pramujati, menyebutkan inovasi tersebut telah menarik perhatian Keaparatur negara kementerianan Pertanian lantaran menawarkan pendekatan berbeda dibandingkan alat pertanian yang selama ini digunakan.

“Berbeda bersama traktor pada umumnya, kendaraan ini didesain menyerupai bentuk kapal berakibat dapat bergerak di atas lahan basah tanpa mudah tenggelam,” kata Bambang saat uji coba alat tersebut di kawasan lahan gambut ITS, Selasa (14/7).

Menggabungkan mekanisasi dan elektrifikasi

Ketua tim penelitian, Bambang Sudarmanta, menerangkan traktor ini memadukan prinsip flotasi, mekanisasi pertanian, dan sistem penggerak listrik.

Menurutnya, penggunaan motor listrik tidak cuma mengurangi emisi, namun juga berpotensi menekan biaya operasional dibandingkan traktor berbahan bakar solar atau bensin.

“Sistem ini dirancang demi meminimalkan degradasi struktur tanah sekaligus mendukung praktik pertanian yang makin rendah emisi,” ujarnya.

Dari sisi teknis, traktor memakai motor listrik berdaya 10 kilowatt (kW). Pengemudi dapat memantau kondisi baterai, suhu, hingga tegangan melalui layar elektronik yang terpasang pada kendaraan.

ITS merancang motor tersebut agar menghasilkan torsi tinggi sejak awal dioperasikan. Karakteristik ini dinilai penting lantaran membajak lahan membutuhkan tenaga besar pada putaran rendah.

“Keunggulannya merupakan respons torsinya instan ketika tuas gas diaktifkan berakibat tenaga penuh dapat langsung digunakan demi menggemburkan tanah,” kata Bambang Sudarmanta.

Dengan baterai berkapasitas 140 ampere-hour (Ah), traktor dapat digunakan selama sekitar tiga hingga empat jam dalam sekali pengisian penuh.

Berdasarkan hasil uji coba awal, tim peneliti memperkirakan alat tersebut mampu mengolah lahan hingga sekitar satu hektare dalam satu kali penggunaan.

Masih dalam tahap penyempurnaan

Meski memperlihatkan hasil yang menjanapabilan, pengembangan traktor ini masih belum berakhir. Dalam uji coba, tim masih menemukan sejumlah kendala teknis, salah satunya suhu komponen yang meningkat ketika alat digunakan dalam waktu lama.

Untuk mengatasinya, peneliti mengimbuhkan sistem pendingin sebagai untukan dari pengembangan berikutnya agar performa traktor tetap stabil saat beroperasi di lapangan.

Ke depan, ITS menginginkan inovasi ini dapat menjadi salah satu pilihan teknologi untuk petani yang mengelola lahan gambut, sekaligus mendukung upaya meningkatkan produktivitas pertanian bersama emisi yang makin rendah.

Menurut ITS, pengembangan teknologi tersebut juga sejalan bersama target pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada aspek ketahanan pangan, energi bersih, serta inovasi industri dan infrastruktur.

Penulis: Chairunisa

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article