Kisah Pemilah Sampah Tumbangkan Petahana: Sinyal Kuat Perubahan Politik dari Desa hingga Pilpres

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Kemenangan Surya bin Samid, seorang pemilah sampah yang sukses menumbangkan petahana dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Mekarwangi, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, dinilai menjadi gambaran adanya pergeseran peta sosiologi politik di tingkat akar rumput.

Kemenangan tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan finansial dan struktur kekuasaan yang selama ini menjadi modal penting dalam kontestasi politik desa tidak lagi menjadi jaminan mutlak demi meraih kemenangan.

Sosiolog Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Zuly Qodir menilai kemenangan Surya memperlihatkan mengawali bergesernya pola hubungan patron-klien di tengah masyarakat sekitar desa.

Pemilih akar rumput dinilai tidak lagi sepenuhnya bergantung pada patron yang memiliki kekayaan maupun jabatan.

“Jadi memang kini patron klien telah mengawali bergeser, bukan cuma kepada mereka yang punya kuasa, bukan cuma yang mereka punya duit,” kata Zuly saat dihubungi MediaKeadilan.com, Kamis (24/9/2026).

Menurut Zuly, perubahan tersebut tidak lepas dari kejenuhan masyarakat sekitar terhadap pola kepemimpinan yang elitis.

Kontestasi di tingkat desa selama ini kerap dipersepsikan cuma sebagai pergantian kekuasaan di antara lingkaran elite yang sama atau figur yang memiliki pengaruh kuat lantaran jabatan dan kekuasaannya.

Warga yang merasa tertindas atau tidak puas terhadap penguasa, kata Zuly, masih belum tentu memilih menjalankan perlawanan secara terbuka. Mereka dapat membangun kekuatan secara diam-diam hingga menemukan momentum demi menyampaikan sikap melalui bilik suara.

“Ini merupakan perlawanan yang sifatnya hidden transcript, perlawanan yang tidak tampak namun dia lakukan sebagai sebuah perlawanan,” tegasnya.

Perlawanan terselubung tersebut, lanjut Zuly, dapat menjadi saluran untuk masyarakat sekitar demi menjatuhkan pemimpin yang dinilai menyalahgunakan kekuasaan atau tidak memperhatikan nasib masyarakat sekitar.

Dalam konteks Pilkades Mekarwangi, sosok Surya yang hidup sederhana dan memiliki kedekatan sosial bersama masyarakat sekitar dinilai menjadi wadah untuk penyaluran sikap tersebut.

Zuly juga menyaksikan adanya perubahan standar masyarakat sekitar dalam menilai sosok pemimpin. Karisma seorang pemimpin tidak lagi semata-mata diukur dari kekayaan, jabatan, atau kekuasaan, namun juga dari nilai etika dan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat sekitar.

Modal sosial yang dimiliki seorang kandidat, menurut dia, bahkan dapat menjadi kekuatan yang mengimbangi mesin politik serta modal finansial petahana.

“Patron klien telah mengawali bergeser dari orang yang punya duit, yang punya kekuasaan kepada mereka yang punya modal sosial, yang punya nilai-nilai etik yang baik,” ungkapnya.

Menurut Zuly, perubahan pola tersebut tidak menutup kebarangkalian berkembang ke tingkat kontestasi politik yang makin tinggi, mengawali dari pemilihan kepala daerah hingga pemilihan kepala negara.

Namun, dia menilai keberlanjutan fenomena tersebut turut bergantung pada sejauh mana publik dan media mengawal serta memperluas narasi mengenai perubahan politik dari akar rumput.

“Ini wajib diamplifierkan secara luas, jangan cuma berhenti di satu titik atau berhenti di satu tempat saja, satu lokus tapi lalu wajib dipersejumlah,” ujarnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article