MediaKeadilan.com – Keputusan pihak pemerintah membentuk ekstrakurikuler Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) untuk pelajar di sekolah menengah atau sederajat sejumlah waktu lalu menuai kritik dari aktivis.
Program yang dicanangkan sebagai wujud bela negara itu dikhawatirkan membuka celah kembalinya peran militer di ranah sipil dan justru menanamkan doktrin komando yang salah kaprah pada remaja.
Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Muhammad Isnur khawatir pembentukan Korps Kadet justru dapat merusak moral siswa menjadi arogan.
Isnur mengenang KKRI cuma menjadi salin rupa Resimen Mahasiswa (Menwa) yang sempat eksis di masa orde baru.
Saat itu, menurut dia, anggota Menwa dikenal arogan dan cuma menjadi alat peredam untuk suara kritis dalam lingkungan pendidikan.
“Itu akan menciptakan gelombang baru, generasi baru yang punya kesombongan dan merasa diri makin dibandingkan bersama yang lain,” jelas Isnur kepada MediaKeadilan.com di Jakarta pada Selasa (29/9/2026).
Dengan pelatihan ala militer, para pelajar dikhawatirkan justru seakan jadi peluru tanpa arah apabila tak dibarengi peran pengawasan khusus.
“Diajari fisik, diajari senjata, mereka berbahaya sekali lantaran tanpa kontrol militer. Karena bila militer itu, kan, di barak. Kalau ini, kan, di ruang kelas. Siapa yang akan mengontrol mereka seharian?” ungkapnya.
Jika bertujuan membentuk karakter dan kedisiplinan, alumnus UIN Jakarta itu menegaskan pada saat ini telah ada Pramuka yang punya nilai-nilai yang serupa.
Apalagi organisasi kepanduan itu juga telah diterapkan oleh sejumlah negara-negara di dunia.
“Ini kan ‘membunuh’ Pramuka gitu. Pramuka tuh udah standar internasional sekali,” tegas dia.
Karena itu, pembentukan KKRI dia anggap cuma sebagai wujud ancaman terhadap kebebasan sipil yang syarat akan nilai-nilai kritis dalam satuan pendidikan.
Sebagai informasi, pihak pemerintah menerbitkan Keputusan Mendikdasmen Nomor 136 Tahun 2026 yang merinci teknis pelaksanaan Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) demi pelajar sekolah menengah.
Pemerintah berdalih program itu sebagai bentuk penguatan karakter para pelajar serta upaya menanamkan rasa cinta tanah air hingga bela negara. (Reporter: Alif Bintang)
