MediaKeadilan.com – Upaya Indonesia demi memainkan peran strategis sebagai jembatan perdamaian di Semenanjung Korea menemui jalan terjal. Ambisi diplomasi yang sempat mengemuka setelah Presiden Prabowo Subianto menegaskan kesiapannya terbang ke Pyongyang demi menjadi mediator antara Korea Selatan dan Korea Utara wajib berbenturan bersama realitas politik kawasan.
Pemerintah Korea Utara secara resmi menepis usulan dialog yang dimediasi oleh Indonesia, memperpanjang kebuntuan diplomasi antara kedua negara bertetangga tersebut.
Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan dinamika intens dalam diplomasi luar negeri Indonesia yang mengedepankan prinsip bebas aktif. Dari pembicaraan tingkat tinggi di Seoul hingga pengumuman resmi di Jakarta dan respons akhir dari Pyongyang, terdapat kronologi penting yang menarik perhatian publik internasional maupun pembaca domestik.
Kronologi di Seoul dan Pembicaraan Kekuatan Menengah
Kronologi diplomasi ini bermula pada 1 April 2026, ketika Presiden Prabowo Subianto menjalankan kunjungan resmi ke Seoul dan bertemu bersama Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung di Cheong Wa Dae atau Istana Kekepala negaraan Republik Korea.
Dalam pertemuan bilateral tersebut, kedua kepala negara membahas secara mendalam posisi strategis Indonesia dan Korea Selatan sebagai negara kekuatan menengah (middle power).
Spektrum middle power merujuk pada negara-negara bersama kapasitas ekonomi serta militer menengah yang tidak tergolong sebagai negara adidaya, namun memiliki pengaruh signifikan dalam stabilitas global.
Dalam forum tersebut, Prabowo menegaskan bahwa Jakarta dan Seoul beruntuk kekhawatiran serta kepentingan yang identik terkait perdamaian kawasan. Kedua negara juga sepakat demi memperluas cakupan kerja sama bilateral, termasuk pada sektor pertahanan dan keamanan energi.
Di balik agenda resmi tersebut, Presiden Lee Jae-myung ternyata menyampaikan permintaan khusus kepada Presiden Prabowo.
Pemerintah Korea Selatan, yang di bawah kepemimpinan Lee terus mencari cara demi meredakan ketegangan bersama Pyongyang, menyaksikan posisi unik Indonesia yang memiliki hubungan diplomatik harmonis bersama kedua belah pihak di Semenanjung Korea.
Pengakuan Prabowo
Fakta mengenai permintaan rahasia dalam pertemuan di Seoul baru diungkapkan ke publik oleh Presiden Prabowo empat bulan lalu.
Saat berpidato di hadapan jajaran pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia serta asosiasi pengusaha se-Indonesia di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat (31/7/2026), Prabowo memuntukkan cerita mengenai ajakan dialog tersebut.
“Saat kunjungan saya terakhir di Seoul, Presiden Korea Selatan mengimbau kepada saya, dapat enggak saya berkunjung ke Korea Utara demi membuka semacam dialog,” kata Prabowo saat berpidato di hadapan Kamar Dagang dan Industri Indonesia di Istana Negara, Jakarta pada Jumat, 31 Juli 2026.
Prabowo menyambut tawaran tersebut bersama antusiasme tinggi. Ia menegaskan kesiapannya demi menjalankan misi diplomatik ke Pyongyang apabila diminta secara resmi oleh pihak pemerintah Korea Selatan demi kemanusiaan dan stabilitas regional.
