Media Asing Sorot Kebakaran Hutan Indonesia Sumbang Emisi Tertinggi Dunia

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Indonesia mencatatkan tingkat emisi akibat kebakaran hutan dan lahan tertinggi di dunia seiring memuncaknya gelombang panas. Fenomena pemicu cuaca ekstrem El Nino memperparah kekeringan berakibat memicu kebakaran hebat di berbagai titik.

Lonjakan emisi kebakaran di wilayah Indonesia ini tercatat melampaui level negara-negara lain pada periode awal September. Kondisi darurat ini teramat parah melanda kawasan pulau Kalimantan, Sumatra, hingga wilayah Papua Selatan.

Data Copernicus Atmosphere Monitoring Service memperlihatkan intensitas emisi kebakaran periode 1-7 September menembus angka 1.500 kg/km persegi. Angka tersebut mencatatkan lonjakan 273 persen makin tinggi dibanding rerata musiman serta sepuluh kali lipat melampaui tingkat emisi kebakaran di Rusia.

Kualitas udara di sejumlah pusat pemukiman terancam mencapai tingkat yang membahayakan kesehatan masyarakat sekitar lokal secara mendadak. Kota Pontianak di Kalimantan Barat mencatat Indeks Kualitas Udara sebesar 394 yang masuk dalam kategori amat berbahaya.

Keaparatur negara kementerianan Lingkungan Hidup merespons angka pemantauan kualitas udara tersebut bersama kewaspadaan penuh. Pemerintah menegaskan sedang memantau data Copernicus meski mengimbuhkan bahwa angka tersebut tidak secara langsung mencerminkan kondisi udara di area spesifik.

Platform Sipongi milik Keaparatur negara kementerianan Kehutanan mencatat sesejumlah 13.443 titik panas terdeteksi dari tanggal 1 Agustus hingga 8 September. Angka titik panas berdasarkan satelit Terra dan Aqua milik NASA ini melampaui catatan 9.454 titik panas pada periode sama tahun 2015.

Peningkatan luas area yang terbakar melonjak drastis saat memasuki pertengahan pada tahun ini. Dari Januari hingga Juli, luas lahan terbakar cuma sekitar 202.000 hektar semasih belum akhirnya meluas tajam pada bulan berikutnya.

Perwakilan kelompok lingkungan YKAN, Nisa Novita, menyoroti lonjakan luas lahan terbakar yang terjadi secara mendadak tersebut.

“Namun, data bulan Agustus diperkirakan memperlihatkan peningkatan signifikan sekitar 600.000 hektar, khususnya di Kalimantan, Sumatra, dan Papua Selatan,” kata dia, dikutip dari Reuters.

Para pakar mengkhawatirkan deteksi satelit masih belum merekam seluruh skala kerusakan lahan gambut di lapangan. Kebakaran bawah tanah kerap kali tidak terdeteksi oleh pemantau satelit standar secara langsung.

Ilmuwan senior dari Copernicus Atmosphere Monitoring Service, Mark Parrington, membeberkan keterbatasan sensor satelit dalam memantau kebakaran bawah tanah.

“Salah satu aspek dari kebakaran gambut merupakan apabila terbakar pada suhu rendah atau di bawah tanah, kebakarannya berada di bawah batas deteksi sensor, yang berarti kita tidak benar-benar menyaksikannya,” katanya.

Cuaca ekstrem menciptakan pembakaran lahan berisiko tinggi menyebar tanpa terkendali ke wilayah sekitarnya. Suhu udara yang jauh makin tinggi dan kondisi kering menciptakan nyala api membakar vegetasi secara agresif.

Kondisi iklim El Nino menyerahkan tekanan ekstra pada kekeringan tanah di berbagai kawasan rawan kebakaran. Pengalaman masa lalu memperlihatkan bahwa puncak emisi kebakaran dapat terus berlangsung hingga akhir Oktober.

Mark Parrington menerangkan dampak besar dari kondisi cuaca El Nino terhadap potensi kebakaran hutan di Indonesia.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article