Putra Mahkota Arab Saudi Sembunyi di Bunker Usai Serangan Houthi Melumpuhkan Bandara Riyadh

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Ancaman serangan udara kelompok Houthi memaksa Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) berlindung di istana berfasilitas bunker subterranean. Langkah pengamanan ketat ini diambil seiring meningkatnya intensitas gempuran militer Yaman yang menyasar pusat pihak pemerintahan dan fasilitas vital di Riyadh.

Kemunculan terakhir MBS di hadapan publik tercatat pada 6 Oktober saat dirinya berpartisipasi dalam aksi donor darah. Sejak saat itu, pergerakan sang pemimpin de facto Kerajaan Arab Saudi dialihkan ke area terproteksi khusus guna menghindari potensi ancaman mendadak.

Riyadh kini memfokuskan ulang konfigurasi persenjataannya akibat kewalahan menjaga seluruh jangkauan wilayah yang begitu membentang. Sejumlah baterai pertahanan udara digeser secara khusus demi membentengi kompleks istana serta infrastruktur energi utama.

Keterbatasan alutsista dalam negeri juga mendorong Kerajaan Arab Saudi bergerilya memburu sistem pertahanan udara dari pelbagai negara. Pemerintah bahkan merapat ke Pakistan demi memohon sokongan kekuatan militer secara langsung.

Eskalasi keamanan yang berisiko tinggi ini pada akhirnya membuka opsi perundingan di meja hijau. Pihak Riyadh kini mengawali serius menimbang jalur diplomasi sebagai solusi menghentikan pertikaian panjang bersama Houthi.

Gelombang gempuran Houthi sebetulnya kembali membara sejak pertengahan Juli, mengakhiri periode gencatan senjata yang sempat bertahan selama empat tahun. Target serangan mereka berfokus pada kilang-kilang minyak dan kilat militer yang menyokong pasukan pihak pemerintah Yaman arahan Riyadh.

Sektor penerbangan sipil turut lumpuh setelah Bandara Internasional Riyadh diterjang benturan roket beruntun dalam sejumlah hari belakangan. Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi mencatat insiden fatal pada 10 Oktober yang merenggut 12 nyawa serta melukai 309 orang.

Aksi teror udara tersebut tidak berhenti di situ lantaran rentetan ledakan kembali memicu jatuhnya pihak korban jiwa sehari setelahnya. Serangan susulan pada 11 Oktober mengonfirmasi satu pihak korban tewas dan 11 orang lainnya merasakan luka-luka.

Dua terminal penumpang di bandara utama tersebut meriam hancur dihantam ledakan hingga memicu kobaran api besar. Peristiwa ini mempertegas kerapuhan benteng pertahanan Arab Saudi di tengah amukan armada Houthi.

Dinamika bentrokan militer antara pasukan pihak pemerintah Yaman bantuan Riyadh dan pemberontak Houthi memang terus memanas. Laporan The Wall Street Journal (WSJ) mengutip sejumlah sumber mengonfirmasi bahwa pimpinan tertinggi kerajaan terpaksa berada di dalam bunker akibat situasi darurat ini.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article